Aku pernah
beberapa kali berjumpa dengan segerombolan motor yang membawa bendera
bertuliskan kalimat tahlil. Pengendaranya menggunakan baju muslim, kain sarung
bahkan ada yang memakai gamis dan sorban. Dalam hatiku mengatakan mungkin
inilah kaum yang sangat dirindukan Nabi SAW. Meskipun mereka belum pernah
bertemu Nabi tetapi mereka terlihat sangat antusias mengikuti peringatan
maulid. Mereka membawa bendera, lampu dan segala macam peralatan untuk
memeriahkan peringatan maulid yang akan mereka ikuti. Aku pernah ikut mencoba
merasakan bagaimana euphoria kemeriahan maulid Nabi yang dilakukan oleh mereka.
Biasanya maulid dilakukan di lapangan terbuka yang mampu menampung ribuan para
pecinta Nabi Muhammad SAW. Semua berkumpul menjadi satu, laki perempuan, tua
muda berkumpul dalam tujuan yang satu, yaitu membuktikan cinta mereka kepada
Nabi SAW. Aku duduk agak jauh dari lautan manusia itu. Belum lama aku duduk
tiba-tiba terjadi suasana yang agak ricuh. Aku masih tak mengerti apa yang
terjadi dan ternyata itu disebabkan oleh kedatangan seorang keturunan Nabi SAW
yang menggunakan mobil sedan mewah sehingga jamaah yang tadi sedang duduk harus
bangun terlebih dahulu. Habib itu diarak dengan berbagaimacam arakan yang
sangat panjang. Ada umbul-umbul, bendera dan lain sebagainya. Ketika turun aku
melihat habib itu menggunakan gamis, imamah dan sorban. Dengan menggunakan
tongkat habib itu naik ke atas panggung dan masih dalam keadaan di kawal dengan
ketat. Acara berlangsung khusyuk hingga selesai. Mungkin sekitar jam 1 malam. Itulah
satu potret keadaan umat muslim saat ini yang begitu antusias mencintai Nabi
Muhammad SAW.
Sementara itu di sisi lain, aku juga pernah berkawan dengan
seorang santri pesantren salaf. Pesantren yang berada jauh dari keramaian. Rata-rata
santri disana sudah lulus sekolah. Mereka fokus menghafal alfiyyah, belajar
ilmu alat, fiqih, tafsir serta berbagai pan ilmu lainnya. Keadaan mereka sangat
sederhana. Aku juga pernah ikut bergabung bersama mereka. sehari-hari mereka
bercocok tanam, memasak dan mengaji. Rata-rata mereka hanya berpakaian sarung
dan baju koko. Sangat jarang ada santri yang menggunakan sorban apalagi imamah.
Menurut mereka, belum pantas rasanya mereka menggunakan sorban dan gamis. Mereka
merasa ilmunya masih terlalu cetek untuk berpenampilan seperti itu. Rasa tawadhu
mereka sangat tinggi. Padahal banyak diantara mereka yang sudah hafal alfiyyah
bahkan jauhar maknun tetapi kerendahan hati mereka membuatku merasa malu. Ketika
di kamar, mereka biasa berkumpul, ngopi dan ngerokok sambil muthola’ah kitab
yang telah mereka pelajari. Ini hampir terjadi di semua pesantren salaf di
jawa, baik jawa barat, jawa tengah dan jawa timur. Ini adalah potret kedua
keadaan umat Islam yang pernah aku rasakan.
Masih ada satu lagi, keadaan yang
juga kini aku alami. Yaitu keadaan umat islam di perguruan tinggi yang
cenderung memaksa kita berfikir untuk mengembalikan umat Islam kepada masa
kejayaan. Pertentangan keras tentang dikotomi ilmu pengetahuan yang dianggap
menjadi penyebab mundurnya umat Islam saat ini. Hingga mereka berani membedah pemikiran-pemikiran
ilmuwan muslim yang juga memiliki keahlian pada ilmu umum agar membangkitkan
semangat para pelajar muslim untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang bersifat
umum. Alasan mereka bahwa surah al-alaq ayat pertama yang memerintahkan umat
muslim untuk “membaca, meneliti dan mempelajari segala sesuatu dengan menyebut
atau memuji nama Tuhan yang menciptakan” itu adalah perintah agar manusia
belajar tentang penciptaan alam semesta, teknologi dan sebagaimana sehingga
ketika mereka sudah mengetahui maka mereka akan memuji kebesaran Allah SWT. Ini
adalah potret umat Islam ke tiga yang paling modern diantara dua potret di
atas.
Ketiga kelompok di atas memiliki cara pandang yang berbeda tentang
bagaimana cara beribadah kepada Allah. Tak ada yang salah dari ketiga kelompok
di atas. Hanya saja aku ingin mengingatkan bahwa menuntut ilmu sangatlah
penting bagi kemajuan umat Islam atau setidaknya untuk dirinya pribadi. Saat ini
umat Islam di Indonesia hanya unggul dalam kuantitas tetapi kalah dalam
kualitas. Buktinya saat ini DKI Jakarta yang mayoritas umat muslim dikuasai
oleh orang non muslim. Umat islam di Indonesia kini hanya berlomba untuk
menunjukkan baju keislamannya saja. Hanya bermodalkan pakaian gamis, sorban, dan
sarung ber cap BHS. Menggunakan kalimat berbahasa arab seperti “ana, anta, akhi”
dan masih banyak lagi tetapi tidak mengerti kaidah bahasa arabnya secara baik
sehingga sering terjadi kesalahan dalam pengucapan. Mudah terprovokasi dengan
BC yang mengatakan “bahwa malam ini nisyfu sya’ban, barang siapa mengingatkan…”
padahal belum lama mereka memperingati maulid Nabi yang jatuh pada bulan rabiul
awwal. Itu berarti tidak mungkin nanti malam adalah nisyfu sya’ban. Apalagi
setelah kalimat itu disertai hadis yang belum jelas asal usulnya. Ini adalah
titik terendah kelemahan umat Islam karena banyak diantara kita yang masih
belum hafal bulan hijriah. Terbukti sudah perkataan Nabi SAW yang mengatakan
bahwa umat Islam di akhir zaman seperti buih di lautan. Tak terhitung banyaknya
tetapi tak mampu berbuat apa-apa. Dan yang lebih aku takutkan lagi, dalam
kondisi seperti ini kita akan mudah dibodohi oleh orang yang ingin
menghancurkan Islam. Orang itu hanya perlu menyamar dengan bermodalkan hidung
mancung, jenggot tebal, gamis dan sorban kita akan mudah percaya dan mudah
dibodohi. Sehingga banyak fatwa-fatwa berbahaya yang akan memecah belah
persatuan. Ini semua berada di tangan generasi umat muslim saat ini. Untungnya
Nabi Muhammad SAW tetap menerima shalawat umatnya, tak peduli dia bodoh atau
pun pintar. Yang penting mereka ikhlas bershalawat, memuji dan mencintai Nabi
SAW. Namun jangan lupa, bahwa 100 rokaat ahli ibadah masih kalah hebat dari 2
rokaat ahli ilmu. Bahkan Ahli ilmu yang tidur lebih ditakuti dari ahli ibadah
yang sedang shalat. Ini merupakan penghormatan Tuhan kepadaa orang yang berilmu
karena menuntut ilmu bukanlah perkara yang mudah. Dia harus bersusah payah
menggunakan akalnya untuk berfikir. Ketika sudah dianggap berilmu maka dia
harus berjuang melawan rasa sombong yang menimpanya. Tidak heran jika Allah
menempati ahli ilmu pada derajat yang tinggi. Tulisan ini menjadi tanggung
jawab penulis atas nama pribadi (fazasyahriza.blogspot.com), tulisan ini juga tidak bermaksud menyindir
siapa dan kelompok mana pun. Jika ada kritik atau tanggapan silakan disampaikan
ke fazasyahriza.gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar