Jumat, 08 April 2016

Pentingnya Menuntut Ilmu bagi Umat Islam



Aku pernah beberapa kali berjumpa dengan segerombolan motor yang membawa bendera bertuliskan kalimat tahlil. Pengendaranya menggunakan baju muslim, kain sarung bahkan ada yang memakai gamis dan sorban. Dalam hatiku mengatakan mungkin inilah kaum yang sangat dirindukan Nabi SAW. Meskipun mereka belum pernah bertemu Nabi tetapi mereka terlihat sangat antusias mengikuti peringatan maulid. Mereka membawa bendera, lampu dan segala macam peralatan untuk memeriahkan peringatan maulid yang akan mereka ikuti. Aku pernah ikut mencoba merasakan bagaimana euphoria kemeriahan maulid Nabi yang dilakukan oleh mereka. Biasanya maulid dilakukan di lapangan terbuka yang mampu menampung ribuan para pecinta Nabi Muhammad SAW. Semua berkumpul menjadi satu, laki perempuan, tua muda berkumpul dalam tujuan yang satu, yaitu membuktikan cinta mereka kepada Nabi SAW. Aku duduk agak jauh dari lautan manusia itu. Belum lama aku duduk tiba-tiba terjadi suasana yang agak ricuh. Aku masih tak mengerti apa yang terjadi dan ternyata itu disebabkan oleh kedatangan seorang keturunan Nabi SAW yang menggunakan mobil sedan mewah sehingga jamaah yang tadi sedang duduk harus bangun terlebih dahulu. Habib itu diarak dengan berbagaimacam arakan yang sangat panjang. Ada umbul-umbul, bendera dan lain sebagainya. Ketika turun aku melihat habib itu menggunakan gamis, imamah dan sorban. Dengan menggunakan tongkat habib itu naik ke atas panggung dan masih dalam keadaan di kawal dengan ketat. Acara berlangsung khusyuk hingga selesai. Mungkin sekitar jam 1 malam. Itulah satu potret keadaan umat muslim saat ini yang begitu antusias mencintai Nabi Muhammad SAW. 
Sementara itu di sisi lain, aku juga pernah berkawan dengan seorang santri pesantren salaf. Pesantren yang berada jauh dari keramaian. Rata-rata santri disana sudah lulus sekolah. Mereka fokus menghafal alfiyyah, belajar ilmu alat, fiqih, tafsir serta berbagai pan ilmu lainnya. Keadaan mereka sangat sederhana. Aku juga pernah ikut bergabung bersama mereka. sehari-hari mereka bercocok tanam, memasak dan mengaji. Rata-rata mereka hanya berpakaian sarung dan baju koko. Sangat jarang ada santri yang menggunakan sorban apalagi imamah. Menurut mereka, belum pantas rasanya mereka menggunakan sorban dan gamis. Mereka merasa ilmunya masih terlalu cetek untuk berpenampilan seperti itu. Rasa tawadhu mereka sangat tinggi. Padahal banyak diantara mereka yang sudah hafal alfiyyah bahkan jauhar maknun tetapi kerendahan hati mereka membuatku merasa malu. Ketika di kamar, mereka biasa berkumpul, ngopi dan ngerokok sambil muthola’ah kitab yang telah mereka pelajari. Ini hampir terjadi di semua pesantren salaf di jawa, baik jawa barat, jawa tengah dan jawa timur. Ini adalah potret kedua keadaan umat Islam yang pernah aku rasakan.
Masih ada satu lagi, keadaan yang juga kini aku alami. Yaitu keadaan umat islam di perguruan tinggi yang cenderung memaksa kita berfikir untuk mengembalikan umat Islam kepada masa kejayaan. Pertentangan keras tentang dikotomi ilmu pengetahuan yang dianggap menjadi penyebab mundurnya umat Islam saat ini. Hingga mereka berani membedah pemikiran-pemikiran ilmuwan muslim yang juga memiliki keahlian pada ilmu umum agar membangkitkan semangat para pelajar muslim untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang bersifat umum. Alasan mereka bahwa surah al-alaq ayat pertama yang memerintahkan umat muslim untuk “membaca, meneliti dan mempelajari segala sesuatu dengan menyebut atau memuji nama Tuhan yang menciptakan” itu adalah perintah agar manusia belajar tentang penciptaan alam semesta, teknologi dan sebagaimana sehingga ketika mereka sudah mengetahui maka mereka akan memuji kebesaran Allah SWT. Ini adalah potret umat Islam ke tiga yang paling modern diantara dua potret di atas. 
Ketiga kelompok di atas memiliki cara pandang yang berbeda tentang bagaimana cara beribadah kepada Allah. Tak ada yang salah dari ketiga kelompok di atas. Hanya saja aku ingin mengingatkan bahwa menuntut ilmu sangatlah penting bagi kemajuan umat Islam atau setidaknya untuk dirinya pribadi. Saat ini umat Islam di Indonesia hanya unggul dalam kuantitas tetapi kalah dalam kualitas. Buktinya saat ini DKI Jakarta yang mayoritas umat muslim dikuasai oleh orang non muslim. Umat islam di Indonesia kini hanya berlomba untuk menunjukkan baju keislamannya saja. Hanya bermodalkan pakaian gamis, sorban, dan sarung ber cap BHS. Menggunakan kalimat berbahasa arab seperti “ana, anta, akhi” dan masih banyak lagi tetapi tidak mengerti kaidah bahasa arabnya secara baik sehingga sering terjadi kesalahan dalam pengucapan. Mudah terprovokasi dengan BC yang mengatakan “bahwa malam ini nisyfu sya’ban, barang siapa mengingatkan…” padahal belum lama mereka memperingati maulid Nabi yang jatuh pada bulan rabiul awwal. Itu berarti tidak mungkin nanti malam adalah nisyfu sya’ban. Apalagi setelah kalimat itu disertai hadis yang belum jelas asal usulnya. Ini adalah titik terendah kelemahan umat Islam karena banyak diantara kita yang masih belum hafal bulan hijriah. Terbukti sudah perkataan Nabi SAW yang mengatakan bahwa umat Islam di akhir zaman seperti buih di lautan. Tak terhitung banyaknya tetapi tak mampu berbuat apa-apa. Dan yang lebih aku takutkan lagi, dalam kondisi seperti ini kita akan mudah dibodohi oleh orang yang ingin menghancurkan Islam. Orang itu hanya perlu menyamar dengan bermodalkan hidung mancung, jenggot tebal, gamis dan sorban kita akan mudah percaya dan mudah dibodohi. Sehingga banyak fatwa-fatwa berbahaya yang akan memecah belah persatuan. Ini semua berada di tangan generasi umat muslim saat ini. Untungnya Nabi Muhammad SAW tetap menerima shalawat umatnya, tak peduli dia bodoh atau pun pintar. Yang penting mereka ikhlas bershalawat, memuji dan mencintai Nabi SAW. Namun jangan lupa, bahwa 100 rokaat ahli ibadah masih kalah hebat dari 2 rokaat ahli ilmu. Bahkan Ahli ilmu yang tidur lebih ditakuti dari ahli ibadah yang sedang shalat. Ini merupakan penghormatan Tuhan kepadaa orang yang berilmu karena menuntut ilmu bukanlah perkara yang mudah. Dia harus bersusah payah menggunakan akalnya untuk berfikir. Ketika sudah dianggap berilmu maka dia harus berjuang melawan rasa sombong yang menimpanya. Tidak heran jika Allah menempati ahli ilmu pada derajat yang tinggi. Tulisan ini menjadi tanggung jawab penulis atas nama pribadi (fazasyahriza.blogspot.com),  tulisan ini juga tidak bermaksud menyindir siapa dan kelompok mana pun. Jika ada kritik atau tanggapan silakan disampaikan ke fazasyahriza.gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar