Belum lama ini, aku sering mendengar
ucapan yang mengatakan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan lemah. Biasanya,
manusia mengatakan “senjata pamungkas” tersebut setelah melakukan sebuah
kesalahan di depan banyak orang. Setidaknya, kata-kata itu mampu menjadi
benteng pelindung bagi setiap kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh manusia.
Entah kenapa, hatiku tak begitu mau
menerima kata-kata tersebut secara mentah-mentah. Bagiku, Tuhan maha sempurna.
Tak mungkin Dzat yang sempurna menciptakan sesuatu yang lemah. Manusia
menurutku, adalah makhluk sempurna yang jauh dari kata lemah. Makhluk yang
diciptakan dengan kelebihan, kemuliaan dan kesempurnaan. Tak ada satu pun
manusia yang lemah termasuk pelacur, penjahat, koruptor dan lain-lainnya.
Begitu juga dengan makhluk lainnya, Tuhan tak pernah menciptakan produk gagal.
Jadi jangan pernah meremehkan Tuhan dengan mengatakan manusia adalah makhluk
yang lemah. Apalagi setelah diberikan segala macam nikmat jasmani dan rohani,
rasanya merasa diciptakan dalam keadaan lemah adalah sesuatu yang tidak patut.
Beberapa hari ini, aku terus
merenungi kata-kata tersebut. Mencoba mendalami kata-kata yang sering
disalahgunakan oleh manusia tak bertanggung jawab. Apalagi setelah Tuhan
mengatakan bahwa “Aku tergantung sangkaan hamba-Ku kepada-Ku”, tak ada lagi
alasan untuk berburuk sangka kepada Tuhan.
Lemah menurut Tuhan adalah
kesempurnaan dalam pandangan manusia, sedikit menurut Tuhan adalah sangat
banyak menurut manusia dan kecil menurut Tuhan adalah sangat besar menurut
manusia. Jadi ketika Tuhan mengatakan bahwa Dia menciptakan manusia dalam
keadaan lemah, aku justru merasa telah diciptakan dalam keadaan yang begitu
sempurna sehingga tak ada kesempatan bagiku untuk tidak bersyukur karena ukuran
lemah menurut Tuhan sangat berebeda dengan lemah menurut manusia.
Ungkapan manusia diciptakan dalam
keadaan lemah sebenarnya merupakan sindirian bagi manusia yang sesunggunya
telah diciptakan dengan begitu sempurna, tetapi tak mampu memanfaatkan segala
kelebihan yang dia punya untuk mengenal Tuhan, berbuat baik dan merawat alam.
Kesempurnaan yang diberikan oleh Tuhan justru sering kali disalah gunakan atau
bahkan tidak dimanfaatkan secara mendalam hingga akhirnya Tuhan selipkan kata
lemah ketika menyebut lafadz insan.
Berkali-kali Al-qur’an membuktikan
bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Seperti pada zaman Nabi
Sulaiman as, ada seorang shaleh yang mampu mengalahkan kehebatan jin ifrit
dalam sayembara memindahkan istana ratu Bilqis. Ini merupakan salah satu bukti
bahwa manusia bukanlah makhluk yang lemah. Kelemahan itu justru diciptakan oleh
manusia itu sendiri.
Selain itu, kemampuan Nabi Muhammad
SAW untuk berhadapan langsung dengan Tuhan ketika peristiwa isra’ mi’raj merupakan
sebuah alasan yang mutlak bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna. Bahkan,
malaikat Jibril as yang ditugaskan untuk menemani Nabi Muhammad SAW pun tak
mendapatkan kewenangan tersebut.
Masalah di dunia terdapat banyak
orang yang dianggap berbuat jahat adalah urusan lain. Jika diperhatikan, pada
hakikatnya semua makhluk di dunia melakukan penyembahan (ubudiyyah) kepada
Allah SWT, baik yang dilakukan oleh orang fasik, shaleh, pelaku maksiat dan
bahkan setan. Semua makhluk berkolaborasi dalam jabatannya masing-masing untuk
menyembah Tuhan. Sesungguhnya tak ada orang jahat dan orang baik. Bahkan
keta’atan setan dalam menjalankan tugas untuk menggoda manusia adalah sebuah
bentuk ibadah yang hingga hari kiamat pun setan akan tetap mengakui bahwa tiada
Tuhan selain Allah.
Semua berjalan sebagaimana mestinya
dan semua beribadah dengan caranya masing-masing. Pelacur yang sering dianggap
sampah masyarakat pun sebenarnya tak ada yang dapat memastikan nasibnya kelak
di akhirat meskipun ulama fiqh menetapkan bahwa mereka harus dirajam
sebagaimana tak ada yang dapat memastikan seorang ahli ibadah akan masuk surga
meskipun seribu ulama fiqh menghukumi bahwa seluruh shalat yang dilakukan sah
secara syariat.
Maka timbul pertanyaan kenapa harus
ada ulama fiqh jika sesungguhnya hanya Tuhan yang memiliki hak prerogatif untuk
menentukan nasib seseorang di akhriat. Jawabannya tentu akan berbeda-beda pada
setiap orang, tetapi menurutku ulama fiqh adalah seseorang yang sedang
memanfaatkan segala kesempurnaan yang telah Tuhan berikan kepadanya. Hasil dari
pemikirannya memang tidak menjadi kebenaran yang bersifat mutlak tetapi
setidaknya mampu menjadi peta kehidupan bagi manusia yang ingin berbahagia di
dunia dan akhirat.
Dibalik semua itu, pada hakikatnya
manusia memang makhluk lemah tetapi jangan pernah berfikir bahwa Tuhan
menciptakan manusia dalam keadaan lemah. Manusia itu sendirilah yang
menciptakan kelemahan di dalam dirinya. Ibarat sebuah tank perang yang
diciptakan begitu tangguh dan gagah dalam berbagai medan jika dikendarai oleh
seorang yang tak berilmu maka kekuatan dan kegagahan tank tersebut tak akan
berarti.
Sifat terbatas dan lemah yang
dimiliki manusia memang harus ada pada setiap individu demi menciptakan
persaudaraan, kerja sama dan sifat sosial satu sama lain. Jangan pernah jadikan
kelemahan itu sebuah alasan untuk menyembunyikan kesalahan, apalagi menjadi
alasan untuk tidak berkembang. Justru kelemahan itu sengaja Tuhan katakan agar
manusia mencari cara untuk meminimalisir akibat dari kelemahan yang mereka miliki.
Pada akhirnya, di ujung tulisan ini
aku hanya ingin menyampaikan bahwa kesempurnaan adalah milik Tuhan semata.
Setiap makhluk termasuk malaikat dan para Nabi pun memiliki kelemahan, hanya
saja kelemahan itu hanya berlaku jika disandingkan dengan kesempurnaan Tuhan.
Maka kesimpulannya semua makhluk adalah lemah. Namun, jika tak disandingkan
dengan Dzat Tuhan, maka semua yang Tuhan berikan kepada kita adalah lebih dari
sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar