Selasa, 05 September 2017

Manusia Diciptakan Dalam Keadaan Sempurna



Belum lama ini, aku sering mendengar ucapan yang mengatakan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan lemah. Biasanya, manusia mengatakan “senjata pamungkas” tersebut setelah melakukan sebuah kesalahan di depan banyak orang. Setidaknya, kata-kata itu mampu menjadi benteng pelindung bagi setiap kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh manusia.
Entah kenapa, hatiku tak begitu mau menerima kata-kata tersebut secara mentah-mentah. Bagiku, Tuhan maha sempurna. Tak mungkin Dzat yang sempurna menciptakan sesuatu yang lemah. Manusia menurutku, adalah makhluk sempurna yang jauh dari kata lemah. Makhluk yang diciptakan dengan kelebihan, kemuliaan dan kesempurnaan. Tak ada satu pun manusia yang lemah termasuk pelacur, penjahat, koruptor dan lain-lainnya. Begitu juga dengan makhluk lainnya, Tuhan tak pernah menciptakan produk gagal. Jadi jangan pernah meremehkan Tuhan dengan mengatakan manusia adalah makhluk yang lemah. Apalagi setelah diberikan segala macam nikmat jasmani dan rohani, rasanya merasa diciptakan dalam keadaan lemah adalah sesuatu yang tidak patut.
Beberapa hari ini, aku terus merenungi kata-kata tersebut. Mencoba mendalami kata-kata yang sering disalahgunakan oleh manusia tak bertanggung jawab. Apalagi setelah Tuhan mengatakan bahwa “Aku tergantung sangkaan hamba-Ku kepada-Ku”, tak ada lagi alasan untuk berburuk sangka kepada Tuhan.
Lemah menurut Tuhan adalah kesempurnaan dalam pandangan manusia, sedikit menurut Tuhan adalah sangat banyak menurut manusia dan kecil menurut Tuhan adalah sangat besar menurut manusia. Jadi ketika Tuhan mengatakan bahwa Dia menciptakan manusia dalam keadaan lemah, aku justru merasa telah diciptakan dalam keadaan yang begitu sempurna sehingga tak ada kesempatan bagiku untuk tidak bersyukur karena ukuran lemah menurut Tuhan sangat berebeda dengan lemah menurut manusia.
Ungkapan manusia diciptakan dalam keadaan lemah sebenarnya merupakan sindirian bagi manusia yang sesunggunya telah diciptakan dengan begitu sempurna, tetapi tak mampu memanfaatkan segala kelebihan yang dia punya untuk mengenal Tuhan, berbuat baik dan merawat alam. Kesempurnaan yang diberikan oleh Tuhan justru sering kali disalah gunakan atau bahkan tidak dimanfaatkan secara mendalam hingga akhirnya Tuhan selipkan kata lemah ketika menyebut lafadz insan.
Berkali-kali Al-qur’an membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Seperti pada zaman Nabi Sulaiman as, ada seorang shaleh yang mampu mengalahkan kehebatan jin ifrit dalam sayembara memindahkan istana ratu Bilqis. Ini merupakan salah satu bukti bahwa manusia bukanlah makhluk yang lemah. Kelemahan itu justru diciptakan oleh manusia itu sendiri.
Selain itu, kemampuan Nabi Muhammad SAW untuk berhadapan langsung dengan Tuhan ketika peristiwa isra’ mi’raj merupakan sebuah alasan yang mutlak bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna. Bahkan, malaikat Jibril as yang ditugaskan untuk menemani Nabi Muhammad SAW pun tak mendapatkan kewenangan tersebut.
Masalah di dunia terdapat banyak orang yang dianggap berbuat jahat adalah urusan lain. Jika diperhatikan, pada hakikatnya semua makhluk di dunia melakukan penyembahan (ubudiyyah) kepada Allah SWT, baik yang dilakukan oleh orang fasik, shaleh, pelaku maksiat dan bahkan setan. Semua makhluk berkolaborasi dalam jabatannya masing-masing untuk menyembah Tuhan. Sesungguhnya tak ada orang jahat dan orang baik. Bahkan keta’atan setan dalam menjalankan tugas untuk menggoda manusia adalah sebuah bentuk ibadah yang hingga hari kiamat pun setan akan tetap mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah.
Semua berjalan sebagaimana mestinya dan semua beribadah dengan caranya masing-masing. Pelacur yang sering dianggap sampah masyarakat pun sebenarnya tak ada yang dapat memastikan nasibnya kelak di akhirat meskipun ulama fiqh menetapkan bahwa mereka harus dirajam sebagaimana tak ada yang dapat memastikan seorang ahli ibadah akan masuk surga meskipun seribu ulama fiqh menghukumi bahwa seluruh shalat yang dilakukan sah secara syariat.
Maka timbul pertanyaan kenapa harus ada ulama fiqh jika sesungguhnya hanya Tuhan yang memiliki hak prerogatif untuk menentukan nasib seseorang di akhriat. Jawabannya tentu akan berbeda-beda pada setiap orang, tetapi menurutku ulama fiqh adalah seseorang yang sedang memanfaatkan segala kesempurnaan yang telah Tuhan berikan kepadanya. Hasil dari pemikirannya memang tidak menjadi kebenaran yang bersifat mutlak tetapi setidaknya mampu menjadi peta kehidupan bagi manusia yang ingin berbahagia di dunia dan akhirat.
Dibalik semua itu, pada hakikatnya manusia memang makhluk lemah tetapi jangan pernah berfikir bahwa Tuhan menciptakan manusia dalam keadaan lemah. Manusia itu sendirilah yang menciptakan kelemahan di dalam dirinya. Ibarat sebuah tank perang yang diciptakan begitu tangguh dan gagah dalam berbagai medan jika dikendarai oleh seorang yang tak berilmu maka kekuatan dan kegagahan tank tersebut tak akan berarti.
Sifat terbatas dan lemah yang dimiliki manusia memang harus ada pada setiap individu demi menciptakan persaudaraan, kerja sama dan sifat sosial satu sama lain. Jangan pernah jadikan kelemahan itu sebuah alasan untuk menyembunyikan kesalahan, apalagi menjadi alasan untuk tidak berkembang. Justru kelemahan itu sengaja Tuhan katakan agar manusia mencari cara untuk meminimalisir akibat dari kelemahan yang mereka miliki.
Pada akhirnya, di ujung tulisan ini aku hanya ingin menyampaikan bahwa kesempurnaan adalah milik Tuhan semata. Setiap makhluk termasuk malaikat dan para Nabi pun memiliki kelemahan, hanya saja kelemahan itu hanya berlaku jika disandingkan dengan kesempurnaan Tuhan. Maka kesimpulannya semua makhluk adalah lemah. Namun, jika tak disandingkan dengan Dzat Tuhan, maka semua yang Tuhan berikan kepada kita adalah lebih dari sempurna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar