Kamis, 19 Januari 2017

Bhinneka Tunggal Ika, berbeda atau bersatu?

Wajah kebhinekaan Indonesia terus menerus dianggap tergusur akhir-akhir ini. Banyak diantara mereka yang merasa sanggup dan mampu untuk melakukan pergerakan, agar Indonesia yang mereka maksud kembali menjadi negara yang berbeda tetapi tetap satu.

Satu hal yang menjadi point utama adalah ketika bhineka tunggal ika tertulis, yang terpampang dalam pemikiran mereka adalah perbedaan. Entah antar agama, antar suku maupun antar ras. Padahal perbedaan hanyalah kata bantu untuk menjelaskan persatuan. Inti bhineka tunggal ika jelas bukan perbedaan, tetapi adalah persatuan. Berbeda atau tidak itu bukan masalah, yang terpenting kita bersatu tanpa ada kata mayoritas menindas minoritas ataupun minoritas nyeloncong kepada mayoritas.

Hidup memang tak bisa terpisahkan dari perbedaan. Bahkan dalam memahami bhineka tunggal ika pun kita masih berbeda, seakan tak ada kesempatan untuk seragam dalam hidup. Inilah yang menjadi cikal bakal utama terpampangnya kata bhineka, apapun yang terjadi, bagaimana pun kita berbeda, kita harus tetap satu dan tidak bertengkar.

Sayangnya, banyak orang merasa bhineka tunggal ika tak akan tercipta tanpa adanya perbedaan, kami seakan dipaksa untuk berbeda demi mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia.

Oleh karena itu, salah satu cara yang paling efektif untuk mendinginkan kondisi kita adalah menyerukan persatuan, bukan memaksakan perbedaan. Islam, kristen, buddha, hindu dan konghucu merupakan sebuah bukti bahwa bangsa Indonesia mampu menggalang persatuan selama hampir satu abad. Mereka bersaudara tanpa berteriak "bhineka tunggal ika" apalagi melakukan pawai kebangsaan, bhineka tunggal ika mereka tak sebatas hanya sebuah himbauan tetapi telah menyatu dalam darah daging mereka.

Merdeka !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar