Malam
ini terlalu dingin untuk dinikmati. Bukan karena pendingin ruangan yang sedang
dinyalakan ataupun hujan yang membawa suasana dingin. Tetapi malam ini aku
sedang meriang. Kita mungkin tidak pernah memikirkan
meriang. Kenapa meriang datang, apa manfaat meriang bahkan apa arti meriang
dalam bahasa latin. Biasanya kita hanya mencari tahu bagaimana cara
menghilangkan meriang agar kita dapat beraktivitas kembali seperti biasa. Kebanyakan
orang Indonesia tak peduli dengan masalah yang sedang dihadapinya. Kita lebih
terfokus untuk menyelesaikan masalah
tanpa mau kenal lebih lanjut tentang masalah yang kita hadapi. Padahal setiap
masalah punya sisi keunikan tersendiri seperti meriang. Dalam kamu besar bahasa
Indonesia meriang adalah berasa tidak enak badan karena kurang sehat; terasa
agak demam (misalnya karena masuk angin atau terserang influenza).
Ada
yang lucu dari fenomena meriang ini. Biasanya setiap kali aku merasa meriang orangtuaku
selalu mengatakan aku masuk angin. Mungkin menurut mereka dan sebagian orang
betawi tidak ada penyakit selain masuk angin. Andai mereka berbicara
menggunakan bahasa arab mungkin mereka akan mengatakan tidak ada penyakit
selain masuk angin menggunakan huruf lam
allati linafyil jinsi seperti lam dalam kalimat La Ilaha illallah . Dalam kaidah nahwu lam allati linafyil jinsi berfungsi untuk menafikan segala jenis.
Ibarat tidak ada segala penyakit apa pun di dunia ini selain masuk angin. Padahal
meriang bisa saja disebabkan oleh nyamuk demam berdarah yang tidak berkaitan
dengan masuk angin, atau karena terserang influenza. Kita sudah terbiasa
menggampangkan segala jenis masalah yang kita hadapi bahkan terkadang kita
melupakannya seakan tidak terjadi apa-apa. Budaya ini mempunyai dampak positif
dan negatif tersendiri. Di jepang banyak orang melakukan bunuh diri karena
tidak mampu menyelesaikan masalah. Sementara kita masih bisa bersenang-senang
dengan banjir yang melanda ibu kota. Tak cukup anak-anak yang mandi di air
banjir bahkan para pedagang kaki lima menjajakan barang bawaannya di tempat
banjir seakan banjir adalah rekreasi musiman yang harus dimanfaatkan untuk
mengais rezeki. Dengan bangga aku katakan pada sisi ini kita jauh lebih unggul
dari Negara jepang.
Banyak
alasan yang menyebabkan kita berbahagia dengan masalah yang harusnya
diselesaikan dengan segera. Tidak semua warga ibukota adalah orang kaya. Banyak
keluarga yang masih tinggal di bantaran kali. Mereka adalah salah satu contoh
manusa yang memiliki sifat ketawadhuan yang luar biasa. Mandi dengan air kali
yang warnanya biru karena limbah adalah hal yang biasa. Mereka tidak pernah
terlihat sedih dan menjerit kepada pemerintah karena keadaan mereka yang
seperti itu. Mereka juga tidak pernah meminta dibelikan rumah oleh pemerintah.
Justru mereka sangat marah ketika pemerintah ingin merobohkan istana mereka
yang berada di atas sungai biru itu. Bukan tanpa alasan memang.
Pemerintah
ibarat seorang lelaki yang berjanji kepada wanita bahwa dia akan selalu
mencintainya. Mungkin awalnya memang seperti itu. Tetapi ketika lelaki itu
melihat wanita yang jauh lebih sempurna dari pacarnya tanpa hitungan detik
janji yang baru saja diucapkan seakan hilang ditelan bumi. Hebatnya lagi rakyat
Indonesia khususnya di Jakarta adalah wanita yang tidak mudah untuk
diiming-imingi janji. Mungkin mereka telah mengambil pelajaran dari
wanita-wanita lain yang diabaikan begitu saja oleh pemerintah. Seakan
wanita-wanita lain telah memberi peringatan ketika bencana lumpur lapindo
terjadi pemerintah datang bagai seorang lelaki perkasa yang siap membantu para
korban tetapi hasilnya masih banyak warga yang tinggal di pengungsian. Mungkin
karena alasan itulah rakyat Indonesia terpaksa menikmati masalah yang dihadapinya.
Ketika
berbicara tentang keunggulan Indonesia sepertinya para penguasa harus bersyukur
mempunyai rakyat yang begitu tawadhu menikmati masalahnya. Mungkin jika ada
seratus orang Jepang yang dipaksa untuk menikmati masalah seperti bangsa
Indonesia ada sekitar Sembilanpuluhan orang yang meninggal sia-sia karena bunuh
diri. Lumayanlah masih ada sepuluh orang yang sanggup bertahan namun itu pun
mungkin mereka akan mengambil pelajaran dari beberapa orang yang meninggal tadi
untuk segera mencari tiket pesawat agar bisa kembali ke tanah salju mereka.
Dengan demikian kita lebih hebat dari Jepang. Merdeka!
Namun
jangan lupa, setiap ada dampak positif biasanya ada juga dampak negatifnya. Aku
tidak mengerti ketika mereka menikmati banjir apakah itu karena sudah tidak ada
jalan lain untuk menyelesaikannya atau mungkin karena benar-benar ikhlas dengan
kehendak Tuhan. Bagaimanapun mereka menikmati masalah. Masalah tetap akan
menjadi masalah yang harus diselesaikan. Karena mereka menikmati banjir maka
mereka akan menjadi malas. Malas membuang sampah di tempatnya, malas
membersihkan selokan lingkungannya dan malas menanam pohon untuk meresap air.
Hasilnya setiap musim hujan tiba Jakarta akan dengan mudah terendam dan masalah
tidak akan pernah dapat diselesaikan.
Jika
tadi aku berbicara tentang Negara jepang yang kehilangan ratusan nyawa karena
memikirkan suatu masalah maka Indonesia akan kehilangan jutaan nyawa karena
tidak mampu menyelesaikan masalah. Ratusan nyawa rakyat jepang tidak seberapa
jika akhirnya mereka mampu menyelesaikan masalahnya. Jepang adalah Negara
dengan intensitas gempa bumi yang sangat tinggi. Namun mereka mampu
menyelamatkan nyawa rakyatnya karena mereka mau memikirkan dan bersatu untuk
menyelesaikan masalah tersebut. Indonesia juga punya banyak potensi bencana
alam tetapi cara kita menyikapi bencana itu sangat berbeda dengan Negara
Jepang.
Sudahlah,
ini Indonesia bukan jepang atau Negara maju manapun. Semoga Tuhan memaklumi
kami yang sedang berusaha untuk menjadi khalifah di muka bumi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar