Selasa, 12 April 2016

MERIANG, BANJIR DAN JEPANG

Malam ini terlalu dingin untuk dinikmati. Bukan karena pendingin ruangan yang sedang dinyalakan ataupun hujan yang membawa suasana dingin. Tetapi malam ini aku sedang meriang.  Kita mungkin tidak pernah memikirkan meriang. Kenapa meriang datang, apa manfaat meriang bahkan apa arti meriang dalam bahasa latin. Biasanya kita hanya mencari tahu bagaimana cara menghilangkan meriang agar kita dapat beraktivitas kembali seperti biasa. Kebanyakan orang Indonesia tak peduli dengan masalah yang sedang dihadapinya. Kita lebih terfokus untuk menyelesaikan  masalah tanpa mau kenal lebih lanjut tentang masalah yang kita hadapi. Padahal setiap masalah punya sisi keunikan tersendiri seperti meriang. Dalam kamu besar bahasa Indonesia meriang adalah berasa tidak enak badan karena kurang sehat; terasa agak demam (misalnya karena masuk angin atau terserang influenza).
Ada yang lucu dari fenomena meriang ini. Biasanya setiap kali aku merasa meriang orangtuaku selalu mengatakan aku masuk angin. Mungkin menurut mereka dan sebagian orang betawi tidak ada penyakit selain masuk angin. Andai mereka berbicara menggunakan bahasa arab mungkin mereka akan mengatakan tidak ada penyakit selain masuk angin menggunakan huruf lam allati linafyil jinsi seperti lam dalam kalimat La Ilaha illallah . Dalam kaidah nahwu lam allati linafyil jinsi berfungsi untuk menafikan segala jenis. Ibarat tidak ada segala penyakit apa pun di dunia ini selain masuk angin. Padahal meriang bisa saja disebabkan oleh nyamuk demam berdarah yang tidak berkaitan dengan masuk angin, atau karena terserang influenza. Kita sudah terbiasa menggampangkan segala jenis masalah yang kita hadapi bahkan terkadang kita melupakannya seakan tidak terjadi apa-apa. Budaya ini mempunyai dampak positif dan negatif tersendiri. Di jepang banyak orang melakukan bunuh diri karena tidak mampu menyelesaikan masalah. Sementara kita masih bisa bersenang-senang dengan banjir yang melanda ibu kota. Tak cukup anak-anak yang mandi di air banjir bahkan para pedagang kaki lima menjajakan barang bawaannya di tempat banjir seakan banjir adalah rekreasi musiman yang harus dimanfaatkan untuk mengais rezeki. Dengan bangga aku katakan pada sisi ini kita jauh lebih unggul dari Negara jepang.
Banyak alasan yang menyebabkan kita berbahagia dengan masalah yang harusnya diselesaikan dengan segera. Tidak semua warga ibukota adalah orang kaya. Banyak keluarga yang masih tinggal di bantaran kali. Mereka adalah salah satu contoh manusa yang memiliki sifat ketawadhuan yang luar biasa. Mandi dengan air kali yang warnanya biru karena limbah adalah hal yang biasa. Mereka tidak pernah terlihat sedih dan menjerit kepada pemerintah karena keadaan mereka yang seperti itu. Mereka juga tidak pernah meminta dibelikan rumah oleh pemerintah. Justru mereka sangat marah ketika pemerintah ingin merobohkan istana mereka yang berada di atas sungai biru itu. Bukan tanpa alasan memang.
Pemerintah ibarat seorang lelaki yang berjanji kepada wanita bahwa dia akan selalu mencintainya. Mungkin awalnya memang seperti itu. Tetapi ketika lelaki itu melihat wanita yang jauh lebih sempurna dari pacarnya tanpa hitungan detik janji yang baru saja diucapkan seakan hilang ditelan bumi. Hebatnya lagi rakyat Indonesia khususnya di Jakarta adalah wanita yang tidak mudah untuk diiming-imingi janji. Mungkin mereka telah mengambil pelajaran dari wanita-wanita lain yang diabaikan begitu saja oleh pemerintah. Seakan wanita-wanita lain telah memberi peringatan ketika bencana lumpur lapindo terjadi pemerintah datang bagai seorang lelaki perkasa yang siap membantu para korban tetapi hasilnya masih banyak warga yang tinggal di pengungsian. Mungkin karena alasan itulah rakyat Indonesia terpaksa menikmati masalah yang dihadapinya.
Ketika berbicara tentang keunggulan Indonesia sepertinya para penguasa harus bersyukur mempunyai rakyat yang begitu tawadhu menikmati masalahnya. Mungkin jika ada seratus orang Jepang yang dipaksa untuk menikmati masalah seperti bangsa Indonesia ada sekitar Sembilanpuluhan orang yang meninggal sia-sia karena bunuh diri. Lumayanlah masih ada sepuluh orang yang sanggup bertahan namun itu pun mungkin mereka akan mengambil pelajaran dari beberapa orang yang meninggal tadi untuk segera mencari tiket pesawat agar bisa kembali ke tanah salju mereka. Dengan demikian kita lebih hebat dari Jepang. Merdeka!
Namun jangan lupa, setiap ada dampak positif biasanya ada juga dampak negatifnya. Aku tidak mengerti ketika mereka menikmati banjir apakah itu karena sudah tidak ada jalan lain untuk menyelesaikannya atau mungkin karena benar-benar ikhlas dengan kehendak Tuhan. Bagaimanapun mereka menikmati masalah. Masalah tetap akan menjadi masalah yang harus diselesaikan. Karena mereka menikmati banjir maka mereka akan menjadi malas. Malas membuang sampah di tempatnya, malas membersihkan selokan lingkungannya dan malas menanam pohon untuk meresap air. Hasilnya setiap musim hujan tiba Jakarta akan dengan mudah terendam dan masalah tidak akan pernah dapat diselesaikan.
Jika tadi aku berbicara tentang Negara jepang yang kehilangan ratusan nyawa karena memikirkan suatu masalah maka Indonesia akan kehilangan jutaan nyawa karena tidak mampu menyelesaikan masalah. Ratusan nyawa rakyat jepang tidak seberapa jika akhirnya mereka mampu menyelesaikan masalahnya. Jepang adalah Negara dengan intensitas gempa bumi yang sangat tinggi. Namun mereka mampu menyelamatkan nyawa rakyatnya karena mereka mau memikirkan dan bersatu untuk menyelesaikan masalah tersebut. Indonesia juga punya banyak potensi bencana alam tetapi cara kita menyikapi bencana itu sangat berbeda dengan Negara Jepang.  
Sudahlah, ini Indonesia bukan jepang atau Negara maju manapun. Semoga Tuhan memaklumi kami yang sedang berusaha untuk menjadi khalifah di muka bumi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar