Sabtu, 23 September 2017

Berbaringlah..

Semenjak waktu yang tak terbatas. Sebelum apapun berkesempatan untuk di-ada-kan. Termasuk angan-angan yang bersifat memalukan atau mungkin cita-cita yang diselipkan keangkuhan. Semua itu telah tersusun rapih dalam genggamanNya. Menunggu untuk di-ada-kan oleh Dzat yang menciptakan ada. Tetesan air mata, tawa yang terbahak-bahak, serta terpukulnya amr oleh zaid. Lalu, semenjak waktu yang tak terbatas pula. Semua ketiadaan itu bersujud dalam kenikmatan yang tak terbatas. Bercengkrama sebelum akhirnya menerima apapun yang kekasihnya inginkan. Ada yang berevolusi menjadi ulama, pelacur atau kucing yang setiap hari mengeong belas kasihan di depan pintu rumahmu. Wahai yang merasa gelap dalam keadaan terang, yang merasa sepi di kala ramai. Andai ada satu permintaan yang tidak pernah mungkin untuk dikabulkan. Di tengah kebahagiaan yang masih sungguh sangat ingin untuk dinikmati. Sementara keputus asaan tak henti-hentinya meminta dihormati. Ketidak adilan enggan untuk pergi. Atau mungkin rasa malu yang menyelimuti, disertai kekecewaan yang tak pernah berhenti. Akan kuminta dalam keheningan, agar tetap ada sedikit rongga untuk melampiaskan air mata. Bersandarlah, atau mungkin berbaringlah. Perlihatkan cahaya yang dahulu mungkin dianggap akan menerangi bumi. Ketidak adilan adalah kemutlakkan bagi manusia. Semua berhak untuk mendapat ketidak adilan yang menyamar. Biarkan sejenak tubuhmu terhempas angin. Kembali menjadi ketiadaan seperti sediakala. Merasakan kehangatan, kenyamanan dan pelukan erat.

Selasa, 05 September 2017

Manusia Diciptakan Dalam Keadaan Sempurna



Belum lama ini, aku sering mendengar ucapan yang mengatakan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan lemah. Biasanya, manusia mengatakan “senjata pamungkas” tersebut setelah melakukan sebuah kesalahan di depan banyak orang. Setidaknya, kata-kata itu mampu menjadi benteng pelindung bagi setiap kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh manusia.
Entah kenapa, hatiku tak begitu mau menerima kata-kata tersebut secara mentah-mentah. Bagiku, Tuhan maha sempurna. Tak mungkin Dzat yang sempurna menciptakan sesuatu yang lemah. Manusia menurutku, adalah makhluk sempurna yang jauh dari kata lemah. Makhluk yang diciptakan dengan kelebihan, kemuliaan dan kesempurnaan. Tak ada satu pun manusia yang lemah termasuk pelacur, penjahat, koruptor dan lain-lainnya. Begitu juga dengan makhluk lainnya, Tuhan tak pernah menciptakan produk gagal. Jadi jangan pernah meremehkan Tuhan dengan mengatakan manusia adalah makhluk yang lemah. Apalagi setelah diberikan segala macam nikmat jasmani dan rohani, rasanya merasa diciptakan dalam keadaan lemah adalah sesuatu yang tidak patut.
Beberapa hari ini, aku terus merenungi kata-kata tersebut. Mencoba mendalami kata-kata yang sering disalahgunakan oleh manusia tak bertanggung jawab. Apalagi setelah Tuhan mengatakan bahwa “Aku tergantung sangkaan hamba-Ku kepada-Ku”, tak ada lagi alasan untuk berburuk sangka kepada Tuhan.
Lemah menurut Tuhan adalah kesempurnaan dalam pandangan manusia, sedikit menurut Tuhan adalah sangat banyak menurut manusia dan kecil menurut Tuhan adalah sangat besar menurut manusia. Jadi ketika Tuhan mengatakan bahwa Dia menciptakan manusia dalam keadaan lemah, aku justru merasa telah diciptakan dalam keadaan yang begitu sempurna sehingga tak ada kesempatan bagiku untuk tidak bersyukur karena ukuran lemah menurut Tuhan sangat berebeda dengan lemah menurut manusia.
Ungkapan manusia diciptakan dalam keadaan lemah sebenarnya merupakan sindirian bagi manusia yang sesunggunya telah diciptakan dengan begitu sempurna, tetapi tak mampu memanfaatkan segala kelebihan yang dia punya untuk mengenal Tuhan, berbuat baik dan merawat alam. Kesempurnaan yang diberikan oleh Tuhan justru sering kali disalah gunakan atau bahkan tidak dimanfaatkan secara mendalam hingga akhirnya Tuhan selipkan kata lemah ketika menyebut lafadz insan.
Berkali-kali Al-qur’an membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Seperti pada zaman Nabi Sulaiman as, ada seorang shaleh yang mampu mengalahkan kehebatan jin ifrit dalam sayembara memindahkan istana ratu Bilqis. Ini merupakan salah satu bukti bahwa manusia bukanlah makhluk yang lemah. Kelemahan itu justru diciptakan oleh manusia itu sendiri.
Selain itu, kemampuan Nabi Muhammad SAW untuk berhadapan langsung dengan Tuhan ketika peristiwa isra’ mi’raj merupakan sebuah alasan yang mutlak bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna. Bahkan, malaikat Jibril as yang ditugaskan untuk menemani Nabi Muhammad SAW pun tak mendapatkan kewenangan tersebut.
Masalah di dunia terdapat banyak orang yang dianggap berbuat jahat adalah urusan lain. Jika diperhatikan, pada hakikatnya semua makhluk di dunia melakukan penyembahan (ubudiyyah) kepada Allah SWT, baik yang dilakukan oleh orang fasik, shaleh, pelaku maksiat dan bahkan setan. Semua makhluk berkolaborasi dalam jabatannya masing-masing untuk menyembah Tuhan. Sesungguhnya tak ada orang jahat dan orang baik. Bahkan keta’atan setan dalam menjalankan tugas untuk menggoda manusia adalah sebuah bentuk ibadah yang hingga hari kiamat pun setan akan tetap mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah.
Semua berjalan sebagaimana mestinya dan semua beribadah dengan caranya masing-masing. Pelacur yang sering dianggap sampah masyarakat pun sebenarnya tak ada yang dapat memastikan nasibnya kelak di akhirat meskipun ulama fiqh menetapkan bahwa mereka harus dirajam sebagaimana tak ada yang dapat memastikan seorang ahli ibadah akan masuk surga meskipun seribu ulama fiqh menghukumi bahwa seluruh shalat yang dilakukan sah secara syariat.
Maka timbul pertanyaan kenapa harus ada ulama fiqh jika sesungguhnya hanya Tuhan yang memiliki hak prerogatif untuk menentukan nasib seseorang di akhriat. Jawabannya tentu akan berbeda-beda pada setiap orang, tetapi menurutku ulama fiqh adalah seseorang yang sedang memanfaatkan segala kesempurnaan yang telah Tuhan berikan kepadanya. Hasil dari pemikirannya memang tidak menjadi kebenaran yang bersifat mutlak tetapi setidaknya mampu menjadi peta kehidupan bagi manusia yang ingin berbahagia di dunia dan akhirat.
Dibalik semua itu, pada hakikatnya manusia memang makhluk lemah tetapi jangan pernah berfikir bahwa Tuhan menciptakan manusia dalam keadaan lemah. Manusia itu sendirilah yang menciptakan kelemahan di dalam dirinya. Ibarat sebuah tank perang yang diciptakan begitu tangguh dan gagah dalam berbagai medan jika dikendarai oleh seorang yang tak berilmu maka kekuatan dan kegagahan tank tersebut tak akan berarti.
Sifat terbatas dan lemah yang dimiliki manusia memang harus ada pada setiap individu demi menciptakan persaudaraan, kerja sama dan sifat sosial satu sama lain. Jangan pernah jadikan kelemahan itu sebuah alasan untuk menyembunyikan kesalahan, apalagi menjadi alasan untuk tidak berkembang. Justru kelemahan itu sengaja Tuhan katakan agar manusia mencari cara untuk meminimalisir akibat dari kelemahan yang mereka miliki.
Pada akhirnya, di ujung tulisan ini aku hanya ingin menyampaikan bahwa kesempurnaan adalah milik Tuhan semata. Setiap makhluk termasuk malaikat dan para Nabi pun memiliki kelemahan, hanya saja kelemahan itu hanya berlaku jika disandingkan dengan kesempurnaan Tuhan. Maka kesimpulannya semua makhluk adalah lemah. Namun, jika tak disandingkan dengan Dzat Tuhan, maka semua yang Tuhan berikan kepada kita adalah lebih dari sempurna.

Sains dan Tauhid



Sesuatu yang paling pasti di dunia ini adalah sebuah ketidakpastian. Setidaknya, kata-kata inilah yang membombardir madzhab Newtonian yang dipelopori oleh Galileo Galilei dan diresmikan secara tidak resmi oleh Sir Isaac Newton. Kebanyakan orang barat menyebutnya madzhab fisika klasik, sementara orang Indonesia tidak pernah memberinya nama apapun. Bukan karena falsafah “apalah arti sebuah nama” tetapi karena orang Indonesia lebih asyik membicarakan perdebatan politik dalam negeri daripada menelusuri kemajuan ilmu pengetahuan yang ada.
Dalam sejarah fisika, madzhab klasik lahir dari sikap keras gereja yang “mengandangi” kemajuan pemikiran bangsa barat sehingga pada puncaknya, mereka kaum gereja melarang seluruh umat Kristiani membaca Kitab Sucinya sendirian. Segala sesuatu ada pada otoritas mutlak gereja.Tak ada kesempatan untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran mereka. Pihak gereja menganggap merekalah satu-satunya otoritas yang berkuasa dan berhak menyelesaikan sebuah permasalahan dan menentukan suatu kebijakan dalam segala bidang. Inilah yang menyebabkan munculnya sebuah kelompok yang memprotes kebijakan-kebijakan gereja hingga akhirnya mereka membelah diri menjadi sebuah aliran keagaman yang bernama Protestan. Ditambah lagi, ditemukannya mesin cetak oleh Johannes Gutenberg pada abad 15 M menambah laju kecepatan perkembangan ajaran Martin Luther yang mempelopori reformasi protestan di eropa khususnya.
Reformasi protestan besar-besaran ini ternyata menghasilkan banyak ilmuwan-ilmuwan baru yang berlomba-lomba untuk menemukan sesuatu yang dianggap sesuai dengan penalaran logika manusia, tak terikat dengan ajaran teologis dan terbebas dari doktrin gereja. Puncaknya adalah ketika Newton mengungkapkan bahwa bumi adalah sebuah mesin raksasa yang bergerak secara mekanis dan sistematis. Mereka menganggap semua yang ada di alam semesta ini dapat diprediksi secara ilmiah. Secara bertanggung jawab, tentu kejadian ini memiliki banyak efek positif seperti memprediksi gempa bumi, gerhana dan berbagai fenomena alam lainnya. Selain itu, konsep fisika klasik juga menjadi dasar berkembangnya teknologi hingga zaman ini. Namun sejak saat juga kesadaran manusia terhadap spiritual semakin menjauh dan paham materialism semakin berkuasa.
Madzhab ini masih menjadi rujukan utama hingga pada akhir abad 19 M ditemukan beberapa fenomena yang tidak dapat dijelaskan oleh konsep fisika klasik. Hal ini menyebabkan para ilmuwan berusaha keras mencari jalan keluar dari berbagai permasalahan yang muncul. Max Planck, Niels Bohr dan Einstein-dengan teori relativitasnya- mencoba menawarkan sesuatu yang fresh dan baru untuk menyelesaikan problematika yang buntu dan gagal diselesaikan oleh Konsep Newtonian. Konsep inilah yang sering dinamakan dengan Fisika Kuantum atau dikenal juga dengan Madzhab fisika modern.
Inti dari konsep Fisika Kuantum adalah ditemukannya Quark atau disebut juga Quanta sebagai sebuah energi atau partikel yang menjadi inti terdalam dari sesuatu dan menjadi penyusun proton dan neutron. Jika fisika klasik mengatakan bahwa benda terbagi menjadi padat, cair dan uap, maka teori fisika kuantum membantah dan berpendapat bahwa semua benda tersusun dari getaran energi yang kecepatannya melampaui kecepatan cahaya. Semakin lambat quanta bergetar maka semakin dapat terdeteksi oleh panca indera seperti air, bangku dan bau. Begitu juga manusia yang ternyata bukan benda padat melainkan adalah kumpulan energi yang menimbulkan ilusi bahwa manusia seakan padat. Namun semakin cepat energi tersebut bergetar maka sesuatu tersebut hanya dapat dirasakan seperti marah, bahagia dan ketakutan. Dengan ditemukannya quanta, terbukti bahwa segala sesuatu tersusun dari getaran energi. Hal yang paling mengejutkan adalah ditemukannya hukum The Law Of Attraction (hukum ketertarikan) yang diklaim mampu menentukan masa depan seseorang. Semakin seseorang pandai memainkan energi quanta, semakin mampu seseorang tersebut mengendalikan masa depan Seperti Firman Allah SWT “Aku Sesuai dengan sangkaan hambaku”, dan “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka”. Hukum ini menjelaskan bahwa semakin sering manusia berfikir positif , maka energi yang keluar akan menarik fikiran tersebut ke dalam kenyataan. Selain itu fisika kuantum juga mampu menjelaskan karomah, mukjizat dan sesuatu yang dianggap ganjil dalam kacamata fisika klasik seperti seseorang yang berada dalam dua tempat dalam satu waktu, menembus jarak ribuan kilometer dalam sekian detik atau mengendalikan sesuatu tanpa menyentuhnya (quantum nonlocal connection). Secara tidak sadar penemuan ini jelas semakin menghancurkan eksistensi fisika klasik yang bercirikan materi, sistematis dan terprediksi. 
Pada baris ini, aku mulai berani mengatakan bahwa sains (Biologi,Fisika dan Kimia) merupakan salah satu ilmu tauhid yang harus dipelajari seorang muslim terutama di Indonesia untuk membuktikan Tuhan secara absolut dan ilmiah demi menambah keyakinan/ketauhidan seorang muslim. Salah satu contohnya adalah Doktrin bahwa Tuhan tak berbentuk. Ini merupakan satu-satunya hal paling masuk akal dalam ilmu Tauhid. Andai Tuhan berbentuk, maka Dia pun akan tersusun dari partikel Quark , itu artinya Tuhan tidak Esa dan tersusun dari sesuatu. Maka gelar Maha Kuasa otomatis akan sirna. Oleh karena itu dalam agama Islam Tuhan tidak berbentuk sebagaimana makhluk karena dia adalah Dzat yang maha kuasa.
Selain itu, masih banyak keistimewaan teori kuantum lainnya yang menyatakan bahwa Alam semesta tidak bergerak hanya secara mekanis saja, melainkan ada Energi penggerak di luar kekuasaan makhluk yang hingga saat ini masih dalam penelusuran lebih lanjut. Seperti pada kisah Nabi Musa melawan Dukun-dukun fir’aun. Ketika para dukun mengubah tali menjadi ular-ular kecil, lalu Nabi Musa dengan kekuasaan Allah mengubah quark kayu menjadi seekor ular besar, seketika itu juga para dukun mengakui kekuasaan Allah dan bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah. Pelajaran pertama yang kita ambil adalah tentu bahwa dukun-dukun Firaun tersebut adalah dukun terbaik di zamannya. Mereka juga pasti mengetahui batas kemampuan sihir manusia sejauh mana. Oleh karena itu, ketika Nabi Musa mengubah tongkat menjadi ular, secara langsung mereka mengakui kenabian Musa karena manusia biasa tidak akan mungkin mencapai kemampuan sedahsyat itu. Kemampuan itu hanya dapat dicapai oleh kekuasaan Tuhan.
Ini merupakan bukti bahwa semakin seseorang belajar, semakin mereka mengetahui mana batas kemampuan manusia dan mana kekuasaan Allah SWT. Ini juga yang menjadi sebab banyaknya masyarakat eropa yang berusaha mencari kembali spiritualitas mereka yang hilang semenjak kedatangan materialism. Kesadaran bahwa ada Dzat yang mengendalikan Alam semesta juga sedikit demi sedikit mulai terbangun kembali sehingga menimbulkan optimisme mendalam bahwa suatu saat Eropa akan menjadi Tuan Rumah Masyarakat Muslim Dunia berbasis IPTEK sembari berpura-pura optimis mungkin Indonesia akan menjadi Tuan Rumah Masyarakat Muslim Dunia berbasis Budaya.

Kamis, 19 Januari 2017

Bhinneka Tunggal Ika, berbeda atau bersatu?

Wajah kebhinekaan Indonesia terus menerus dianggap tergusur akhir-akhir ini. Banyak diantara mereka yang merasa sanggup dan mampu untuk melakukan pergerakan, agar Indonesia yang mereka maksud kembali menjadi negara yang berbeda tetapi tetap satu.

Satu hal yang menjadi point utama adalah ketika bhineka tunggal ika tertulis, yang terpampang dalam pemikiran mereka adalah perbedaan. Entah antar agama, antar suku maupun antar ras. Padahal perbedaan hanyalah kata bantu untuk menjelaskan persatuan. Inti bhineka tunggal ika jelas bukan perbedaan, tetapi adalah persatuan. Berbeda atau tidak itu bukan masalah, yang terpenting kita bersatu tanpa ada kata mayoritas menindas minoritas ataupun minoritas nyeloncong kepada mayoritas.

Hidup memang tak bisa terpisahkan dari perbedaan. Bahkan dalam memahami bhineka tunggal ika pun kita masih berbeda, seakan tak ada kesempatan untuk seragam dalam hidup. Inilah yang menjadi cikal bakal utama terpampangnya kata bhineka, apapun yang terjadi, bagaimana pun kita berbeda, kita harus tetap satu dan tidak bertengkar.

Sayangnya, banyak orang merasa bhineka tunggal ika tak akan tercipta tanpa adanya perbedaan, kami seakan dipaksa untuk berbeda demi mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia.

Oleh karena itu, salah satu cara yang paling efektif untuk mendinginkan kondisi kita adalah menyerukan persatuan, bukan memaksakan perbedaan. Islam, kristen, buddha, hindu dan konghucu merupakan sebuah bukti bahwa bangsa Indonesia mampu menggalang persatuan selama hampir satu abad. Mereka bersaudara tanpa berteriak "bhineka tunggal ika" apalagi melakukan pawai kebangsaan, bhineka tunggal ika mereka tak sebatas hanya sebuah himbauan tetapi telah menyatu dalam darah daging mereka.

Merdeka !

Rabu, 18 Januari 2017

Gado-gado kehidupan

Gado-gado kehidupan merupakan kumpulan tulisan yang mencoba mencari kebenaran dari berbagai perspektif , sudut dan permasalahan..