Senin, 18 April 2016

Pejabat Bersembunyi Rakyat Enggan Mencari



Jika kalian perhatikan, hampir setiap tulisanku berawal dengan kata “malam ini” atau seumpamanya. Aku juga tak mengerti kenapa aku lebih suka menulis dalam kegelapan daripada menulis dalam keadaan terang. Menurutku menulis pada malam hari mampu menjernihkan kotoran yang menempel pada fikiranku.  Seperti halnya pejabat yang lebih suka bersembunyi ketika membuat suatu peraturan. Apalagi jika yang dirancang adalah APBN atau APBD. Hampir tak ada satu pun masyarakat yang tahu berapa jumlah uang yang diberikan dan untuk apa digunakan uang itu. Para wakil rakyat bagaikan anak kecil yang memiliki mainan baru. Dia selalu berusaha bersembunyi agar tak ada teman yang meminjamnya. Dia terlalu menyayangi mainan barunya itu. Dia mungkin takut mainan barunya rusak atau kotor. Aku tidak mengatakan bersembunyi adalah perbuatan buruk. Banyak para sufi dan wali yang bersembunyi dari keramaian, mencari keheningan di dalam gua agar mendapatkan ketenangan batin. Ada juga seorang audiktif yang selalu bersembunyi ketika belajar. Dia tak ingin diganggu dengan suara-suara yang membuatnya tak mampu konsen belajar. Ini menunjukkan bahwa bersembunyi tak selalu buruk. Jika ada yang menyalahgunakan perbuatan “bersembunyi” maka yang salah bukanlah perbuatannya tetapi orang yang membuat citra bersembunyi itu menjadi buruk. Aku juga tidak mengatakan bahwa bersembunyi itu perbuatan baik.  Nabi SAW memerintahkan kita  untuk menyembunyikan ibadah yang kita lakukan  sebagaimana kita menyembunyikan perbuatan dosa yang kita lakukan. Secara tidak langsung Nabi SAW mengatakan bahwa menyembunyikan suatu ibadah adalah perbuatan baik.  Sesungguhnya bukan perbuatan “bersembunyi” itulah yang dianggap baik tetapi yang dikatakan baik adalah orang yang beribadah yang membuat citra bersembunyi menjadi baik. Ketika para anggota DPR bersembunyi saat merancang APBN sesungguhnya masyarakat bukan menyalahkan perbuatan bersembunyi itu tetapi mempertanyakan penyebab kenapa mereka bersembunyi. Aku tak bisa menjawab secara pasti karena aku pun bukan bagian dari mereka. Namun menurutku para pejabat negara yang bersembunyi tak ingin merepotkan rakyatnya. Mereka mengerti keadaan rakyat Indonesia yang sibuk bekerja mencari nafkah agar hari ini bisa makan atau mungkin mereka mengerti keadaan pemuda yang terlalu sibuk mengurusi motornya agar menang balapan nanti malam. Intinya mereka mengerti bahwa rakyat Indonesia adalah rakyat yang sangat sibuk. Pemerintah seakan tak ingin menambah beban rakyatnya sehingga mereka mengambil kesimpulan untuk menyusun APBD secara sembunyi agar tak merepotkan rakyat. Namun sayangnya, ketika para pejabat sedang asyik bersembunyi, ada satu orang “asli” Indonesia yang tinggal dan bekerja di singapura yang katanya iseng memeriksa rancangan APBN. Ternyata orang “asli” Indonesia itu menemukan jawaban kenapa para pejabat bersembunyi ketika sedang merancang APBD. Dia mengatakan bahwa harga UPS di rancangan APBD itu sangat mahal. Disitu tertulis bahwa 1 buah UPS dihargai 6 M padahal harga dipasaran hanya sekitar 1 M. ah, mungkin sisa uang 5 M itu disedekahkan kepada orang yang tak mampu atau mungkin mereka sedang mengamalkan apa yang Nabi SAW perintahkan. Sembunyikanlah perbuatan baikmu sebagaimana kamu “menyembunyikan perbuatan burukmu”. Mau tidak mau, percaya atau tidak inilah kondisi yang terjadi di Republik kita. Kita ibarat anak kecil yang sedang bermain petak umpet dengan orang dewasa. Anak kecil itu sangat bersemangat untuk bersembunyi tetapi orang dewasanya enggan untuk mencari. Pejabat sibuk bersembunyi tetapi rakyat enggan untuk mencari. Andai tak ada orang yang menemukan kejanggalan itu mungkin hingga kini para pejabat masih asyik bersembunyi. Kita tidak bisa mengandalkan KPK untuk memberantas korupsi. KPK terlalu kecil untuk mengurusi korupsi di negeri sebesar Indonesia. Butuh perhatian dan pergerakan dari seluruh elemen bangsa Indonesia. Jika kita masih terus seperti ini bukan tidak mungkin 50 tahun mendatang Indonesia berubah menjadi negara miskin. Bukan hanya miskin harta tetapi juga miskin moral. Lebih parah lagi, kita akan gagal mendominasi populasi surga karena banyak orang Indonesia yang akan tinggal di neraka. Padahal sebelumnya aku berani mengatakan bahwa surga sangat mirip seperti negara Indonesia. Apalagi ketika kita sedang berjalan di surga maka pasti kita akan mudah menemukan orang Indonesia. Dengan bermodalkan mayoritas muslim di dunia, itu bukanlah hal yang mustahil tetapi dengan adanya korupsi aku rasa kita harus mengubur dalam-dalam cita-cita kita untuk mendominasi surga. Pilihannya, ada pada aku, kamu dan kita yang dianggap sebagai orang Indonesia.

Selasa, 12 April 2016

Kasih Sayang Tuhan

Malam ini, meski sudah menunjukkan pukul 1 tetapi keadaan mataku masih sangat terang. Layaknya kelelawar aku mungkin ditakdirkan untuk hidup di malam hari. Hidup di tengah kegelapan, ditemani bintang malam dan kesunyian yang hanya bisa dirasakan oleh pengidap insom sepertiku. Mengetik dalam kegelapan bukanlah sesuatu yang mudah. Aku harus berulang kali mengganti tulisanku yang salah. Layaknya pendosa yang mencoba meraba cahaya Tuhan setidaknya agar mampu menemukan kasih sayang Tuhan yang masih tersisa untuknya. Hingga akhirnya datang titik paling rendah dan paling bawah. Saat  pendosa sudah sangat lelah dengan perbuatan maksiatnya. Namun Tuhan tak pernah enggan untuk merangkulnya karena sifat kemaha penyayang Tuhan yang tak berbatas. Pelukan Tuhan semakin erat. Seakan pendosa itu adalah makhluk yang paling disayang oleh Tuhan.  Kelemahan sang pendosa dan kasih sayang Tuhan melebur menjadi satu. Membuat semua ahli ibadah merasa cemburu. Disaat itu pendosa berteriak keras “Tuhan, aku tidak butuh surga. Aku hanya ingin memelukmu untuk selama-lamanya.” Pendosa itu tak mau melepaskan pelukan Tuhan sementara Tuhan merasa tak tega untuk melepaskan pelukan pendosa itu. Kini, mereka berdua berpelukkan dalam keabadian. Tak ada batas apalagi seorang pun yang berani menghalangi mereka. ketika ini semua telah terjadi aku masih tetap dalam keadaanku. Berdiam, mematung dan berharap akulah si pendosa itu.

MERIANG, BANJIR DAN JEPANG

Malam ini terlalu dingin untuk dinikmati. Bukan karena pendingin ruangan yang sedang dinyalakan ataupun hujan yang membawa suasana dingin. Tetapi malam ini aku sedang meriang.  Kita mungkin tidak pernah memikirkan meriang. Kenapa meriang datang, apa manfaat meriang bahkan apa arti meriang dalam bahasa latin. Biasanya kita hanya mencari tahu bagaimana cara menghilangkan meriang agar kita dapat beraktivitas kembali seperti biasa. Kebanyakan orang Indonesia tak peduli dengan masalah yang sedang dihadapinya. Kita lebih terfokus untuk menyelesaikan  masalah tanpa mau kenal lebih lanjut tentang masalah yang kita hadapi. Padahal setiap masalah punya sisi keunikan tersendiri seperti meriang. Dalam kamu besar bahasa Indonesia meriang adalah berasa tidak enak badan karena kurang sehat; terasa agak demam (misalnya karena masuk angin atau terserang influenza).
Ada yang lucu dari fenomena meriang ini. Biasanya setiap kali aku merasa meriang orangtuaku selalu mengatakan aku masuk angin. Mungkin menurut mereka dan sebagian orang betawi tidak ada penyakit selain masuk angin. Andai mereka berbicara menggunakan bahasa arab mungkin mereka akan mengatakan tidak ada penyakit selain masuk angin menggunakan huruf lam allati linafyil jinsi seperti lam dalam kalimat La Ilaha illallah . Dalam kaidah nahwu lam allati linafyil jinsi berfungsi untuk menafikan segala jenis. Ibarat tidak ada segala penyakit apa pun di dunia ini selain masuk angin. Padahal meriang bisa saja disebabkan oleh nyamuk demam berdarah yang tidak berkaitan dengan masuk angin, atau karena terserang influenza. Kita sudah terbiasa menggampangkan segala jenis masalah yang kita hadapi bahkan terkadang kita melupakannya seakan tidak terjadi apa-apa. Budaya ini mempunyai dampak positif dan negatif tersendiri. Di jepang banyak orang melakukan bunuh diri karena tidak mampu menyelesaikan masalah. Sementara kita masih bisa bersenang-senang dengan banjir yang melanda ibu kota. Tak cukup anak-anak yang mandi di air banjir bahkan para pedagang kaki lima menjajakan barang bawaannya di tempat banjir seakan banjir adalah rekreasi musiman yang harus dimanfaatkan untuk mengais rezeki. Dengan bangga aku katakan pada sisi ini kita jauh lebih unggul dari Negara jepang.
Banyak alasan yang menyebabkan kita berbahagia dengan masalah yang harusnya diselesaikan dengan segera. Tidak semua warga ibukota adalah orang kaya. Banyak keluarga yang masih tinggal di bantaran kali. Mereka adalah salah satu contoh manusa yang memiliki sifat ketawadhuan yang luar biasa. Mandi dengan air kali yang warnanya biru karena limbah adalah hal yang biasa. Mereka tidak pernah terlihat sedih dan menjerit kepada pemerintah karena keadaan mereka yang seperti itu. Mereka juga tidak pernah meminta dibelikan rumah oleh pemerintah. Justru mereka sangat marah ketika pemerintah ingin merobohkan istana mereka yang berada di atas sungai biru itu. Bukan tanpa alasan memang.
Pemerintah ibarat seorang lelaki yang berjanji kepada wanita bahwa dia akan selalu mencintainya. Mungkin awalnya memang seperti itu. Tetapi ketika lelaki itu melihat wanita yang jauh lebih sempurna dari pacarnya tanpa hitungan detik janji yang baru saja diucapkan seakan hilang ditelan bumi. Hebatnya lagi rakyat Indonesia khususnya di Jakarta adalah wanita yang tidak mudah untuk diiming-imingi janji. Mungkin mereka telah mengambil pelajaran dari wanita-wanita lain yang diabaikan begitu saja oleh pemerintah. Seakan wanita-wanita lain telah memberi peringatan ketika bencana lumpur lapindo terjadi pemerintah datang bagai seorang lelaki perkasa yang siap membantu para korban tetapi hasilnya masih banyak warga yang tinggal di pengungsian. Mungkin karena alasan itulah rakyat Indonesia terpaksa menikmati masalah yang dihadapinya.
Ketika berbicara tentang keunggulan Indonesia sepertinya para penguasa harus bersyukur mempunyai rakyat yang begitu tawadhu menikmati masalahnya. Mungkin jika ada seratus orang Jepang yang dipaksa untuk menikmati masalah seperti bangsa Indonesia ada sekitar Sembilanpuluhan orang yang meninggal sia-sia karena bunuh diri. Lumayanlah masih ada sepuluh orang yang sanggup bertahan namun itu pun mungkin mereka akan mengambil pelajaran dari beberapa orang yang meninggal tadi untuk segera mencari tiket pesawat agar bisa kembali ke tanah salju mereka. Dengan demikian kita lebih hebat dari Jepang. Merdeka!
Namun jangan lupa, setiap ada dampak positif biasanya ada juga dampak negatifnya. Aku tidak mengerti ketika mereka menikmati banjir apakah itu karena sudah tidak ada jalan lain untuk menyelesaikannya atau mungkin karena benar-benar ikhlas dengan kehendak Tuhan. Bagaimanapun mereka menikmati masalah. Masalah tetap akan menjadi masalah yang harus diselesaikan. Karena mereka menikmati banjir maka mereka akan menjadi malas. Malas membuang sampah di tempatnya, malas membersihkan selokan lingkungannya dan malas menanam pohon untuk meresap air. Hasilnya setiap musim hujan tiba Jakarta akan dengan mudah terendam dan masalah tidak akan pernah dapat diselesaikan.
Jika tadi aku berbicara tentang Negara jepang yang kehilangan ratusan nyawa karena memikirkan suatu masalah maka Indonesia akan kehilangan jutaan nyawa karena tidak mampu menyelesaikan masalah. Ratusan nyawa rakyat jepang tidak seberapa jika akhirnya mereka mampu menyelesaikan masalahnya. Jepang adalah Negara dengan intensitas gempa bumi yang sangat tinggi. Namun mereka mampu menyelamatkan nyawa rakyatnya karena mereka mau memikirkan dan bersatu untuk menyelesaikan masalah tersebut. Indonesia juga punya banyak potensi bencana alam tetapi cara kita menyikapi bencana itu sangat berbeda dengan Negara Jepang.  
Sudahlah, ini Indonesia bukan jepang atau Negara maju manapun. Semoga Tuhan memaklumi kami yang sedang berusaha untuk menjadi khalifah di muka bumi.