Jika kalian perhatikan, hampir setiap tulisanku berawal dengan kata
“malam ini” atau seumpamanya. Aku juga tak mengerti kenapa aku lebih suka
menulis dalam kegelapan daripada menulis dalam keadaan terang. Menurutku menulis
pada malam hari mampu menjernihkan kotoran yang menempel pada fikiranku. Seperti halnya pejabat yang lebih suka
bersembunyi ketika membuat suatu peraturan. Apalagi jika yang dirancang adalah
APBN atau APBD. Hampir tak ada satu pun masyarakat yang tahu berapa jumlah uang
yang diberikan dan untuk apa digunakan uang itu. Para wakil rakyat bagaikan
anak kecil yang memiliki mainan baru. Dia selalu berusaha bersembunyi agar tak
ada teman yang meminjamnya. Dia terlalu menyayangi mainan barunya itu. Dia
mungkin takut mainan barunya rusak atau kotor. Aku tidak mengatakan bersembunyi
adalah perbuatan buruk. Banyak para sufi dan wali yang bersembunyi dari
keramaian, mencari keheningan di dalam gua agar mendapatkan ketenangan batin.
Ada juga seorang audiktif yang selalu bersembunyi ketika belajar. Dia tak ingin
diganggu dengan suara-suara yang membuatnya tak mampu konsen belajar. Ini
menunjukkan bahwa bersembunyi tak selalu buruk. Jika ada yang menyalahgunakan
perbuatan “bersembunyi” maka yang salah bukanlah perbuatannya tetapi orang yang
membuat citra bersembunyi itu menjadi buruk. Aku juga tidak mengatakan bahwa
bersembunyi itu perbuatan baik. Nabi SAW
memerintahkan kita untuk menyembunyikan
ibadah yang kita lakukan sebagaimana
kita menyembunyikan perbuatan dosa yang kita lakukan. Secara tidak langsung
Nabi SAW mengatakan bahwa menyembunyikan suatu ibadah adalah perbuatan
baik. Sesungguhnya bukan perbuatan
“bersembunyi” itulah yang dianggap baik tetapi yang dikatakan baik adalah orang
yang beribadah yang membuat citra bersembunyi menjadi baik. Ketika para anggota
DPR bersembunyi saat merancang APBN sesungguhnya masyarakat bukan menyalahkan
perbuatan bersembunyi itu tetapi mempertanyakan penyebab kenapa mereka
bersembunyi. Aku tak bisa menjawab secara pasti karena aku pun bukan bagian
dari mereka. Namun menurutku para pejabat negara yang bersembunyi tak ingin
merepotkan rakyatnya. Mereka mengerti keadaan rakyat Indonesia yang sibuk
bekerja mencari nafkah agar hari ini bisa makan atau mungkin mereka mengerti keadaan
pemuda yang terlalu sibuk mengurusi motornya agar menang balapan nanti malam.
Intinya mereka mengerti bahwa rakyat Indonesia adalah rakyat yang sangat sibuk.
Pemerintah seakan tak ingin menambah beban rakyatnya sehingga mereka mengambil
kesimpulan untuk menyusun APBD secara sembunyi agar tak merepotkan rakyat.
Namun sayangnya, ketika para pejabat sedang asyik bersembunyi, ada satu orang
“asli” Indonesia yang tinggal dan bekerja di singapura yang katanya iseng
memeriksa rancangan APBN. Ternyata orang “asli” Indonesia itu menemukan jawaban
kenapa para pejabat bersembunyi ketika sedang merancang APBD. Dia mengatakan
bahwa harga UPS di rancangan APBD itu sangat mahal. Disitu tertulis bahwa 1
buah UPS dihargai 6 M padahal harga dipasaran hanya sekitar 1 M. ah, mungkin
sisa uang 5 M itu disedekahkan kepada orang yang tak mampu atau mungkin mereka sedang
mengamalkan apa yang Nabi SAW perintahkan. Sembunyikanlah perbuatan baikmu
sebagaimana kamu “menyembunyikan perbuatan burukmu”. Mau tidak mau, percaya
atau tidak inilah kondisi yang terjadi di Republik kita. Kita ibarat anak kecil
yang sedang bermain petak umpet dengan orang dewasa. Anak kecil itu sangat bersemangat
untuk bersembunyi tetapi orang dewasanya enggan untuk mencari. Pejabat sibuk
bersembunyi tetapi rakyat enggan untuk mencari. Andai tak ada orang yang
menemukan kejanggalan itu mungkin hingga kini para pejabat masih asyik
bersembunyi. Kita tidak bisa mengandalkan KPK untuk memberantas korupsi. KPK
terlalu kecil untuk mengurusi korupsi di negeri sebesar Indonesia. Butuh
perhatian dan pergerakan dari seluruh elemen bangsa Indonesia. Jika kita masih
terus seperti ini bukan tidak mungkin 50 tahun mendatang Indonesia berubah
menjadi negara miskin. Bukan hanya miskin harta tetapi juga miskin moral. Lebih
parah lagi, kita akan gagal mendominasi populasi surga karena banyak orang
Indonesia yang akan tinggal di neraka. Padahal sebelumnya aku berani mengatakan
bahwa surga sangat mirip seperti negara Indonesia. Apalagi ketika kita sedang berjalan
di surga maka pasti kita akan mudah menemukan orang Indonesia. Dengan
bermodalkan mayoritas muslim di dunia, itu bukanlah hal yang mustahil tetapi
dengan adanya korupsi aku rasa kita harus mengubur dalam-dalam cita-cita kita
untuk mendominasi surga. Pilihannya, ada pada aku, kamu dan kita yang dianggap
sebagai orang Indonesia.
Senin, 18 April 2016
Selasa, 12 April 2016
Kasih Sayang Tuhan
Malam ini, meski sudah menunjukkan pukul 1 tetapi keadaan mataku masih sangat terang. Layaknya kelelawar aku mungkin ditakdirkan untuk hidup di malam hari. Hidup di tengah kegelapan, ditemani bintang malam dan kesunyian yang hanya bisa dirasakan oleh pengidap insom sepertiku. Mengetik dalam kegelapan bukanlah sesuatu yang mudah. Aku harus berulang kali mengganti tulisanku yang salah. Layaknya pendosa yang mencoba meraba cahaya Tuhan setidaknya agar mampu menemukan kasih sayang Tuhan yang masih tersisa untuknya. Hingga akhirnya datang titik paling rendah dan paling bawah. Saat pendosa sudah sangat lelah dengan perbuatan maksiatnya. Namun Tuhan tak pernah enggan untuk merangkulnya karena sifat kemaha penyayang Tuhan yang tak berbatas. Pelukan Tuhan semakin erat. Seakan pendosa itu adalah makhluk yang paling disayang oleh Tuhan. Kelemahan sang pendosa dan kasih sayang Tuhan melebur menjadi satu. Membuat semua ahli ibadah merasa cemburu. Disaat itu pendosa berteriak keras “Tuhan, aku tidak butuh surga. Aku hanya ingin memelukmu untuk selama-lamanya.” Pendosa itu tak mau melepaskan pelukan Tuhan sementara Tuhan merasa tak tega untuk melepaskan pelukan pendosa itu. Kini, mereka berdua berpelukkan dalam keabadian. Tak ada batas apalagi seorang pun yang berani menghalangi mereka. ketika ini semua telah terjadi aku masih tetap dalam keadaanku. Berdiam, mematung dan berharap akulah si pendosa itu.
MERIANG, BANJIR DAN JEPANG
Malam
ini terlalu dingin untuk dinikmati. Bukan karena pendingin ruangan yang sedang
dinyalakan ataupun hujan yang membawa suasana dingin. Tetapi malam ini aku
sedang meriang. Kita mungkin tidak pernah memikirkan
meriang. Kenapa meriang datang, apa manfaat meriang bahkan apa arti meriang
dalam bahasa latin. Biasanya kita hanya mencari tahu bagaimana cara
menghilangkan meriang agar kita dapat beraktivitas kembali seperti biasa. Kebanyakan
orang Indonesia tak peduli dengan masalah yang sedang dihadapinya. Kita lebih
terfokus untuk menyelesaikan masalah
tanpa mau kenal lebih lanjut tentang masalah yang kita hadapi. Padahal setiap
masalah punya sisi keunikan tersendiri seperti meriang. Dalam kamu besar bahasa
Indonesia meriang adalah berasa tidak enak badan karena kurang sehat; terasa
agak demam (misalnya karena masuk angin atau terserang influenza).
Ada
yang lucu dari fenomena meriang ini. Biasanya setiap kali aku merasa meriang orangtuaku
selalu mengatakan aku masuk angin. Mungkin menurut mereka dan sebagian orang
betawi tidak ada penyakit selain masuk angin. Andai mereka berbicara
menggunakan bahasa arab mungkin mereka akan mengatakan tidak ada penyakit
selain masuk angin menggunakan huruf lam
allati linafyil jinsi seperti lam dalam kalimat La Ilaha illallah . Dalam kaidah nahwu lam allati linafyil jinsi berfungsi untuk menafikan segala jenis.
Ibarat tidak ada segala penyakit apa pun di dunia ini selain masuk angin. Padahal
meriang bisa saja disebabkan oleh nyamuk demam berdarah yang tidak berkaitan
dengan masuk angin, atau karena terserang influenza. Kita sudah terbiasa
menggampangkan segala jenis masalah yang kita hadapi bahkan terkadang kita
melupakannya seakan tidak terjadi apa-apa. Budaya ini mempunyai dampak positif
dan negatif tersendiri. Di jepang banyak orang melakukan bunuh diri karena
tidak mampu menyelesaikan masalah. Sementara kita masih bisa bersenang-senang
dengan banjir yang melanda ibu kota. Tak cukup anak-anak yang mandi di air
banjir bahkan para pedagang kaki lima menjajakan barang bawaannya di tempat
banjir seakan banjir adalah rekreasi musiman yang harus dimanfaatkan untuk
mengais rezeki. Dengan bangga aku katakan pada sisi ini kita jauh lebih unggul
dari Negara jepang.
Banyak
alasan yang menyebabkan kita berbahagia dengan masalah yang harusnya
diselesaikan dengan segera. Tidak semua warga ibukota adalah orang kaya. Banyak
keluarga yang masih tinggal di bantaran kali. Mereka adalah salah satu contoh
manusa yang memiliki sifat ketawadhuan yang luar biasa. Mandi dengan air kali
yang warnanya biru karena limbah adalah hal yang biasa. Mereka tidak pernah
terlihat sedih dan menjerit kepada pemerintah karena keadaan mereka yang
seperti itu. Mereka juga tidak pernah meminta dibelikan rumah oleh pemerintah.
Justru mereka sangat marah ketika pemerintah ingin merobohkan istana mereka
yang berada di atas sungai biru itu. Bukan tanpa alasan memang.
Pemerintah
ibarat seorang lelaki yang berjanji kepada wanita bahwa dia akan selalu
mencintainya. Mungkin awalnya memang seperti itu. Tetapi ketika lelaki itu
melihat wanita yang jauh lebih sempurna dari pacarnya tanpa hitungan detik
janji yang baru saja diucapkan seakan hilang ditelan bumi. Hebatnya lagi rakyat
Indonesia khususnya di Jakarta adalah wanita yang tidak mudah untuk
diiming-imingi janji. Mungkin mereka telah mengambil pelajaran dari
wanita-wanita lain yang diabaikan begitu saja oleh pemerintah. Seakan
wanita-wanita lain telah memberi peringatan ketika bencana lumpur lapindo
terjadi pemerintah datang bagai seorang lelaki perkasa yang siap membantu para
korban tetapi hasilnya masih banyak warga yang tinggal di pengungsian. Mungkin
karena alasan itulah rakyat Indonesia terpaksa menikmati masalah yang dihadapinya.
Ketika
berbicara tentang keunggulan Indonesia sepertinya para penguasa harus bersyukur
mempunyai rakyat yang begitu tawadhu menikmati masalahnya. Mungkin jika ada
seratus orang Jepang yang dipaksa untuk menikmati masalah seperti bangsa
Indonesia ada sekitar Sembilanpuluhan orang yang meninggal sia-sia karena bunuh
diri. Lumayanlah masih ada sepuluh orang yang sanggup bertahan namun itu pun
mungkin mereka akan mengambil pelajaran dari beberapa orang yang meninggal tadi
untuk segera mencari tiket pesawat agar bisa kembali ke tanah salju mereka.
Dengan demikian kita lebih hebat dari Jepang. Merdeka!
Namun
jangan lupa, setiap ada dampak positif biasanya ada juga dampak negatifnya. Aku
tidak mengerti ketika mereka menikmati banjir apakah itu karena sudah tidak ada
jalan lain untuk menyelesaikannya atau mungkin karena benar-benar ikhlas dengan
kehendak Tuhan. Bagaimanapun mereka menikmati masalah. Masalah tetap akan
menjadi masalah yang harus diselesaikan. Karena mereka menikmati banjir maka
mereka akan menjadi malas. Malas membuang sampah di tempatnya, malas
membersihkan selokan lingkungannya dan malas menanam pohon untuk meresap air.
Hasilnya setiap musim hujan tiba Jakarta akan dengan mudah terendam dan masalah
tidak akan pernah dapat diselesaikan.
Jika
tadi aku berbicara tentang Negara jepang yang kehilangan ratusan nyawa karena
memikirkan suatu masalah maka Indonesia akan kehilangan jutaan nyawa karena
tidak mampu menyelesaikan masalah. Ratusan nyawa rakyat jepang tidak seberapa
jika akhirnya mereka mampu menyelesaikan masalahnya. Jepang adalah Negara
dengan intensitas gempa bumi yang sangat tinggi. Namun mereka mampu
menyelamatkan nyawa rakyatnya karena mereka mau memikirkan dan bersatu untuk
menyelesaikan masalah tersebut. Indonesia juga punya banyak potensi bencana
alam tetapi cara kita menyikapi bencana itu sangat berbeda dengan Negara
Jepang.
Sudahlah,
ini Indonesia bukan jepang atau Negara maju manapun. Semoga Tuhan memaklumi
kami yang sedang berusaha untuk menjadi khalifah di muka bumi.
Langganan:
Postingan (Atom)