Malam ini aku kembali membuka laptopku setelah cukup lama enggan
untuk menulis. Bukan karena tidak adanya waktu. Lebih tepatnya karena aku
kehilangan ide untuk menulis. Ide adalah inti dari sebuah tulisan. Bagiku
tulisan tanpa ide bagaikan hidup tanpa mimpi. Hidup seseorang tak akan terarah,
apalagi sukses. Namun bukan berarti manusia tidak bisa hidup tanpa mimpi.
Biasanya ketika aku menulis tanpa ada ide yang jelas maka tulisanku akan
berakhir dengan sia-sia. Aku tetap mampu menulis bahkan hingga sepuluh halaman
lebih tetapi isi tulisanku berantakkan dan tak menarik. Sama dengan manusia
yang akan tetap hidup bahkan hingga 100 tahun tetapi tak memiliki hasil yang
menggembirakan. Menurutku semua orang di dunia ini punya mimpi begitu juga umat
muslim. Biasanya mereka bermimpi masuk surga dengan tanpa disentuh api neraka.
Atau mungkin juga mereka bermimpi agar masuk surga tanpa dihisab sehingga
mereka beribadah sekuat tenaga agar dapat memperoleh impian tersebut. Sayangnya
impian tersebut sulit dicapai karena masyarakat Indonesia khususnya Jakarta
mempunyai penyakit pelupa. Mereka sibuk berdzikir hingga mereka lupa bahwa
mobil yang mereka parkir di pinggir jalan menciptakan kemacetan yang seharusnya
tak terjadi, terkadang juga mereka terlalu bersemangat menjalankan Sunnah
hingga mereka tak menyadari bahwa acara hajatan yang mereka adakan di tengah
jalan menimbulkan masalah bagi orang
lain atau mungkin juga mereka terlalu khusyuk shalat sehingga tidak mendengar
teriakan kelaparan tetangga di samping rumah mereka. Ini adalah sebuah realita
yang terjadi di sekitar kita. Masih ada banyak kejadian yang serupa atau bahkan
lebih parah lagi. Sifat pelupa yang cukup parah biasanya dialami oleh orang
berduit. Aku yakin mereka sangat mencintai Nabi SAW, mereka tak ingin jauh dari
kota mekkah dan Madinah. Hampir setiap tahun mereka pergi haji hingga mereka
lupa bahwa ada banyak rakyat miskin yang ingin pergi haji tetapi tidak mampu
baik karena biaya ataupun karena kuota yang diambil oleh si kaya. Untungnya,
lupa adalah satu sebab batalnya suatu hukum. Jadi aku anggap mereka seperti
orang yang lupa melaksanakan shalat zuhur sehingga tak perlulah menghukumi
bahwa mereka semua itu berdosa atau tidak. Namun bagi orang yang mengetahui
bahwa mereka sedang mengalami penyakit lupa hendaknya diingatkan agar tak
melulu mengandalkan lupa untuk berpaling dari dosa. Aku baru mengerti ketepatan
kaidah fiqih yang mengatakan “Menolak kemunkaran lebih baik daripada melakukan
perbuatan baik” karena setiap perbuatan baik bisa saja memunculkan perbuatan
buruk dan mencegah perbuatan buruk justru bisa menciptakan perbuatan baik. Dulu
aku sempat ngotot mengatakan bahwa perbuatan baik akan menghapus perbuatan
buruk tetapi rasanya ibadah haji yang dilakukan berkali-kali tak akan bisa
menghapus dosa merebut kuota haji bagi si miskin. Lalu yang jadi pertanyaan
apakah jika ada seseorang yang tulus melakukan ibadah haji berkali-kali dengan
niat karena Allah SWT, dia akan tetap berdosa karena dianggap merebut kuota
orang lain yang belum pernah melaksanakan ibadah haji? Secara tidak langsung
pertanyaan di atas seakan mengungkapkan bahwa ide saja tak akan cukup untuk
menciptakan suatu karya apalagi pahala. Niat, ide atau impian memang sesuatu
yang sangat penting dan vital. Dalam ibadah apapun niat menjadi sesuatu yang
paling penting. Tanpa niat seseorang tidak akan dianggap sah dalam beribadah.
Umat muslim di Indonesia biasanya terfokus dengan niat sehingga terkadang lupa
bahwa ada adab atau cara yang harus dilakukan dan juga ada syarat yang harus
ditunaikan. Sayyidina Ali pernah ketinggalan shalat subuh karena tidak
mau mendahului orang tua yahudi, padahal shalat subuh adalah ibadah wajib yang
tak boleh ditinggalkan. Padahal saat itu matahari sudah hampir terbit. Dan
masih banyak kata “padahal” yang seharusnya membuat sayyidina Ali mendahului si
orang yahudi itu. Aku yakin sejak keluar rumah sayyidina Ali sudah niat untuk
shalat jama’ah subuh tepat waktu bersama Nabi SAW tetapi beliau rela menyimpan
niat dan menmpertaruhkan shalat jamaah subuhnya tersebut demi menghormati si
yahudi. Hasilnya, Allah mengutus malaikat untuk menghentikan peredaran matahari
dan Allah memerintahkan malaikat untuk menahan punggung Nabi SAW ketika rukuk
agar sayyidina Ali tidak terlambat berjamaah. Apalagi jika kita mampu menahan
langkah dan tidak mendahului para orangtua dan orang miskin yang ingin pergi
haji ke baitullah. Apalagi jika kita mau meluangkan waktu sedikit untuk
memastikan tidak ada tetangga kita yang kelaparan sehingga tidak mengganggu
kekhusyuan shalat kita. Apalagi jika kita mampu mengorbankan acara hajatan yang
hukumnya Sunnah agar tidak mengganggu jalanan milik umum. Terlebih lagi jika
kita mau mengorbankan waktu dzikir kita untuk memindahkan mobil yang ada di
pinggir jalan atau mempertaruhkan uang untuk pergi haji agar bisa membuat satu
tempat parkir yang tidak mengganggu jalanan umum. Bukan tidak mungkin kita akan
mendapat penghormatan seindah penghormatan Tuhan kepada Sayyidina Ali. Karena
umat muslim adalah pemimpin semua umat maka jiwa seorang pemimpin harus berani
mengorbankan apapun termasuk pahala demi kemaslahatan umat sedunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar