Rabu, 11 Mei 2016

Islam adalah Pengorbanan



Malam ini aku kembali membuka laptopku setelah cukup lama enggan untuk menulis. Bukan karena tidak adanya waktu. Lebih tepatnya karena aku kehilangan ide untuk menulis. Ide adalah inti dari sebuah tulisan. Bagiku tulisan tanpa ide bagaikan hidup tanpa mimpi. Hidup seseorang tak akan terarah, apalagi sukses. Namun bukan berarti manusia tidak bisa hidup tanpa mimpi. Biasanya ketika aku menulis tanpa ada ide yang jelas maka tulisanku akan berakhir dengan sia-sia. Aku tetap mampu menulis bahkan hingga sepuluh halaman lebih tetapi isi tulisanku berantakkan dan tak menarik. Sama dengan manusia yang akan tetap hidup bahkan hingga 100 tahun tetapi tak memiliki hasil yang menggembirakan. Menurutku semua orang di dunia ini punya mimpi begitu juga umat muslim. Biasanya mereka bermimpi masuk surga dengan tanpa disentuh api neraka. Atau mungkin juga mereka bermimpi agar masuk surga tanpa dihisab sehingga mereka beribadah sekuat tenaga agar dapat memperoleh impian tersebut. Sayangnya impian tersebut sulit dicapai karena masyarakat Indonesia khususnya Jakarta mempunyai penyakit pelupa. Mereka sibuk berdzikir hingga mereka lupa bahwa mobil yang mereka parkir di pinggir jalan menciptakan kemacetan yang seharusnya tak terjadi, terkadang juga mereka terlalu bersemangat menjalankan Sunnah hingga mereka tak menyadari bahwa acara hajatan yang mereka adakan di tengah jalan menimbulkan masalah bagi  orang lain atau mungkin juga mereka terlalu khusyuk shalat sehingga tidak mendengar teriakan kelaparan tetangga di samping rumah mereka. Ini adalah sebuah realita yang terjadi di sekitar kita. Masih ada banyak kejadian yang serupa atau bahkan lebih parah lagi. Sifat pelupa yang cukup parah biasanya dialami oleh orang berduit. Aku yakin mereka sangat mencintai Nabi SAW, mereka tak ingin jauh dari kota mekkah dan Madinah. Hampir setiap tahun mereka pergi haji hingga mereka lupa bahwa ada banyak rakyat miskin yang ingin pergi haji tetapi tidak mampu baik karena biaya ataupun karena kuota yang diambil oleh si kaya. Untungnya, lupa adalah satu sebab batalnya suatu hukum. Jadi aku anggap mereka seperti orang yang lupa melaksanakan shalat zuhur sehingga tak perlulah menghukumi bahwa mereka semua itu berdosa atau tidak. Namun bagi orang yang mengetahui bahwa mereka sedang mengalami penyakit lupa hendaknya diingatkan agar tak melulu mengandalkan lupa untuk berpaling dari dosa. Aku baru mengerti ketepatan kaidah fiqih yang mengatakan “Menolak kemunkaran lebih baik daripada melakukan perbuatan baik” karena setiap perbuatan baik bisa saja memunculkan perbuatan buruk dan mencegah perbuatan buruk justru bisa menciptakan perbuatan baik. Dulu aku sempat ngotot mengatakan bahwa perbuatan baik akan menghapus perbuatan buruk tetapi rasanya ibadah haji yang dilakukan berkali-kali tak akan bisa menghapus dosa merebut kuota haji bagi si miskin. Lalu yang jadi pertanyaan apakah jika ada seseorang yang tulus melakukan ibadah haji berkali-kali dengan niat karena Allah SWT, dia akan tetap berdosa karena dianggap merebut kuota orang lain yang belum pernah melaksanakan ibadah haji? Secara tidak langsung pertanyaan di atas seakan mengungkapkan bahwa ide saja tak akan cukup untuk menciptakan suatu karya apalagi pahala. Niat, ide atau impian memang sesuatu yang sangat penting dan vital. Dalam ibadah apapun niat menjadi sesuatu yang paling penting. Tanpa niat seseorang tidak akan dianggap sah dalam beribadah. Umat muslim di Indonesia biasanya terfokus dengan niat sehingga terkadang lupa bahwa ada adab atau cara yang harus dilakukan dan juga ada syarat yang harus ditunaikan. Sayyidina Ali pernah ketinggalan shalat subuh karena tidak mau mendahului orang tua yahudi, padahal shalat subuh adalah ibadah wajib yang tak boleh ditinggalkan. Padahal saat itu matahari sudah hampir terbit. Dan masih banyak kata “padahal” yang seharusnya membuat sayyidina Ali mendahului si orang yahudi itu. Aku yakin sejak keluar rumah sayyidina Ali sudah niat untuk shalat jama’ah subuh tepat waktu bersama Nabi SAW tetapi beliau rela menyimpan niat dan menmpertaruhkan shalat jamaah subuhnya tersebut demi menghormati si yahudi. Hasilnya, Allah mengutus malaikat untuk menghentikan peredaran matahari dan Allah memerintahkan malaikat untuk menahan punggung Nabi SAW ketika rukuk agar sayyidina Ali tidak terlambat berjamaah. Apalagi jika kita mampu menahan langkah dan tidak mendahului para orangtua dan orang miskin yang ingin pergi haji ke baitullah. Apalagi jika kita mau meluangkan waktu sedikit untuk memastikan tidak ada tetangga kita yang kelaparan sehingga tidak mengganggu kekhusyuan shalat kita. Apalagi jika kita mampu mengorbankan acara hajatan yang hukumnya Sunnah agar tidak mengganggu jalanan milik umum. Terlebih lagi jika kita mau mengorbankan waktu dzikir kita untuk memindahkan mobil yang ada di pinggir jalan atau mempertaruhkan uang untuk pergi haji agar bisa membuat satu tempat parkir yang tidak mengganggu jalanan umum. Bukan tidak mungkin kita akan mendapat penghormatan seindah penghormatan Tuhan kepada Sayyidina Ali. Karena umat muslim adalah pemimpin semua umat maka jiwa seorang pemimpin harus berani mengorbankan apapun termasuk pahala demi kemaslahatan umat sedunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar