Senin, 30 Mei 2016

Islam dan Pemimpin



Tidak lama lagi rakyat Indonesia akan menentukan pemimpin daerahnya masing-masing. Suasana panas sudah terjadi dari beberapa bulan yang lalu. Berbagai macam tokoh muncul ke depan seakan merasa dirinya yang paling pantas menjadi pemimpin. Bahkan seorang yang tadinya tak pernah dekat dengan rakyat kini rela becek-becekkan keluar masuk pasar hanya untuk menarik simpati rakyat. Semua calon merasa bahwa mereka bisa menyelesaikan semua masalah yang ada di daerahnya. Cak nun pernah mengatakan orang semacam itu adalah bonek. Indonesia itu rata-rata masyarakatnya adalah bocah nekat. Dulu cak Nun mengatakan “berani-beraninya SBY jadi presiden, emang bisa ngatasi masalah?” Sekarang aku mengatakan hal yang sama “Berani-beraninya Jokowi jadi presiden, emang bisa ngatasi masalah?” Jika dilihat lebih dalam sebenarnya pertanyaan itu merupakan sebuah sinisme yang sangat halus karena di Indonesia semua orang harus jadi bonek. Andai tidak ada bonek maka negeri ini tidak akan ada. Di Indonesia anda tidak menjadi bonek maka anda tidak makan. Begitu juga dengan calon pemimpin kita. Jika mereka tidak menjadi bonek maka mereka tidak akan bisa menjadi seorang pemimpin. Lalu bagaimana tanggapan kita jika ada seorang yang mengatakan “lebih baik pemimpin kafir yang adil daripada pemimpin muslim yang zhalim”. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pernyataan ini. Logikanya jika seorang pemimpin kafir itu adil dia tidak akan menzholimi umat Islam dengan sifat adilnya dan justru sebaliknya, jika seorang pemimpin islam itu zhalim maka hampir dipastikan nasib umat islam akan ditelantarkan. Pernyataan ini seakan menjadi momok menakutkan umat muslim di Indonesia. Padahal jika kita bisa memikirkan dengan hati yang tenang pernyataan ini merupakan sebuah semangat atau lecutan bagi umat Islam agar mampu memunculkan pemimpin-pemimpin yang adil. Bukan malah menjudge seseorang yang mengatakan pernyataan tersebut. Jika kalian ikut mencela seseorang yang mengatakan hal ini justru kalian sedang meng-aminkan bahwa pemimpin Islam adalah pemimpin yang zhalim. Kalian seakan setuju bahwa pemimpin muslim adalah pemimpin yang zhalim. Ini semua terjadi karena cara berfikir kita masih terlalu panas. Terlalu mudah emosi dan tidak menerima jika Islam dijelek-jelekkan padahal mereka sendirilah yang mencoreng nama Islam. Umat Islam di Indonesia ibarat anak bawang yang ingin selalu menjadi pemenang tak peduli dia jago dalam permainan itu atau tidak. Ketika ada seseorang yang mengatakan bahwa anak itu tidak usah main jika tidak bisa bermain. Maka anak bawang tersebut akan marah dan nangis mengadu kepada kedua orangtuanya. Seharusnya kalimat itu menjadi lecutan tersendiri agar dia mau belajar dan menjadi pemenang di permainan itu. Aku bukan mengatakan aku setuju memilih pemimpin kafir. Aku hanya ingin mengatakan bahwa umat Islam di Indonesia harus merubah cara berfikir mereka. Tidak semua pernyataan yang tidak mereka setuju harus disikapi dengan kepala panas. Padahal kalimat di atas sekali lagi aku katakan seharusnya menjadi alasan agar pemimpin muslim yang adil berani maju dan pemimpin “kagetan” tidak berani muncul lagi. Kita krisis pemimpin. Anak mudah terlalu sibuk dengan motor balapnya, seorang pegawai terlalu sibuk dengan pekerjaannya bahkan seorang ulama terlalu sibuk dengan santrinya hingga lupa bahwa kini Jakarta dipimpin oleh seorang non muslim. Ketika ahok sudah menjadi gubernur DKI barulah mereka berteriak sana-sini. Seharusnya permasalahan ini sudah bisa diprediksi dari 20 tahun sebelumnya. Sekarang kita tidak bisa menyalahkan ahok. Kita juga tidak bisa menurunkan dia hanya karena dia bukan gubernur muslim. Aku katakan orang yang ingin menurunkan ahok dengan alasan dia bukan seorang muslim adalah orang yang bodoh dan mempermalukan nama Islam seakan Islam tak mampu bersaing secara sehat dengan umat lain. Tugas kita saat ini bukan menurunkan ahok tetapi mencari calon gubernur yang mampu menandingi ahok. Jika terpilihnya ahok menjadi gubernur kemarin membuat umat Islam menjadi berfikir dan bangun dari mimpi panjangnya maka aku sangat bersyukur pada pilgub kemarin ahok dan jokowi menang. Kita memang umat yang harus digentak. Andai tidak digentak seperti ini maka kita akan terus terlelap memikirkan apakah kita akan masuk surga atau neraka. Jika kita disuruh melakukan sesuatu yang kita anggap tidak akan membuat kita masuk surga maka kita tidak mau mengerjakannya. Logika kita terbatas pada surga dan neraka. Sudahlah, mulai sekarang surga-neraka itu urusan Allah. Sekarang bagaimana caranya agar umat Islam mampu menjadi rahmatan lil alamin, agar masyarakat dunia mampu mencintai Islam sehingga di akhirat nanti kita tidak mempermalukan baginda Nabi SAW. Aku sebenarnya sangat malu ketika ada orang yang mengatakan lebih baik orang kafir yang adil. Adil itu sifat Tuhan, sementara zhalim adalah sifat setan. Namun sifat Tuhan justru lekat dengan umat kafir dan sifat setan malah diletakkan pada umat Islam. Mungkin ini sudah menjadi titik terendah umat Islam. Kita harus segera bangkit. Tak bisa hanya mengandalkan kiai dan ulama saja. Semua elemen umat muslim harus bangkit. Akhlak mulia tidak hanya diperuntukkan bagi ulama tetapi juga bagi semua manusia yang mengaku makhluk Tuhan. Jadi tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tetap menutup mata dari kemunduran ini. Percayalah, Tuhan menjadikan kita sebagai umat muslim di Indonesia karena Dia mempunyai alasan dan maksud tertentu yang tidak bisa digantikan oleh bangsa lain. Oleh karena itu terimalah amanat ini dan jangan pernah kecewakan Tuhan.

Minggu, 29 Mei 2016

Dari Tuhan, Oleh Tuhan dan Untuk Tuhan



Islamku, adalah sebuah agama yang dianggap teroris oleh masyarakat awam. Dianggap agama yang paling benar oleh para pengikutnya. Dianggap pembawa kedamaian bagi yang ditolong. Dianggap pembawa kerusakan bagi yang merasa dijajah. Terlalu banyak pendapat tentang agamaku. Aku sendiri tak mau terlalu mendengarkan pendapat mereka. Biar saja mereka menganggap Islam adalah agama yang paling benar, agama teroris atau apapun itu. Semua itu lahir dari pendapat pribadi yang dihasilkan hanya dari satu atau dua kejadian yang mereka lihat dan alami. Islam itu satu tetapi manusia itu beragam. Islam itu bukan makhluk. Islam tak mempunyai sifat. Jadi bagi mereka yang berpendapat tentang Islam sesungguhnya mereka sedang berpendapat tentang saudara mereka sendiri yang dianggap Islam oleh mereka. Islam tak pernah memaksa siapa pun untuk menjadi penganutnya. Tanpa satu pun penganut agama Islam di bumi maka Islam akan tetap menjadi Islam. Tetap menjadi sebuah agama yang akan menjadi penghubung antara manusia dengan Tuhan. Islam itu abstrak. Tak dapat dilihat namun mampu dirasakan bagi orang-orang tertentu. Siapa pun boleh saja mengaku Islam tetapi belum tentu Islam mengakuinya. Bisa saja ada orang berteriak membela Islam padahal Islam tidak mengakuinya sebagai penganutnya. Manusia terlalu sibuk membedakan siapa yang benar dan siapa yang salah. Terlalu sibuk mencari siapa calon penghuni surga dan calon penghuni neraka. Bahkan terkadang mereka merasa menjadi Tuhan yang pantas menjudge seseorang menjadi ahli neraka. Manusia terlalu sibuk mengurusi iman manusia lainnya hingga lupa bahwa satu kaki mereka telah berada di bayang-bayang neraka. Ada banyak kejadian tentang manusia yang dianggap calon penghuni neraka tetapi justru dengan mudahnya Allah masukkan ke dalam surga. Banyak manusia merasa Islam hanya karena dia melaksanakan shalat lima waktu. Sayangnya gelar Islam tidak dapat dicapai dengan semudah itu. Aku sendiri merasa malu  dengan Tuhan jika aku dianggap sebagai orang Islam. Aku ahli maksiat atau mungkin juga aku adalah salah satu calon penghuni neraka. Aku takut jika aku dianggap beragama Islam tetapi aku justru mencoreng nama suci Agama Islam dengan berbagai macam maksiatku. Aku takut kelakuanku membuat citra agama Islam menjadi buruk. Aku takut perbuatan burukku membuat juta’an manusia membenci Islam. Aku tak ingin mengotori agama Tuhan yang suci. Biarlah aku saja yang kotor tetapi jangan sampai Agamaku ikut menjadi kotor. Aku ibarat kotoran dan agama Islam ibarat dengan air yang bersih. Aku takut jika aku masuk ke dalam air yang bersih justru akan membuat air itu menjadi najis dan kotor hingga banyak orang yang jijik dan enggan menggunakan air itu. Menurutku agama itu urusan seseorang dengan Tuhan. Agama ibarat suatu jalan yang akan kau pilih demi mencapai tujuan bertemu dengan Tuhan. Jika kau mengotori jalan yang kau lewati maka akan ada banyak orang dibelakangmu yang pindah jalan dan enggan melewati jalan yang kau lalui. Secara tidak langsung kau menceburkan banyak jiwa ke neraka. Lalu ketika kau sampai di surga. Sedang asyik bermanja dengan bidadari idamanmu. Tuhan memanggilmu dan memerintahkan malaikat untuk membuangmu ke neraka. Saat kau bertanya kenapa Tuhan melemparkanku ke neraka padahal aku adalah ahli ibadah. Tuhan menjawab ada seorang hambaku yang mengadu kepadaKu bahwa kau telah mengotori agamaKu sehingga banyak hambaKu yang enggan masuk Islam karena perilakumu. Andai seluruh umat Islam mau berfikir seperti ini aku yakin tak akan ada lagi ada kejahatan atas nama Islam. Semuanya terjadi karena setiap orang berlomba-lomba agar diakui sebagai manusia Islam yang paling benar. Tak peduli juta’an orang mengakuimu sebagai muslim yang paling benar jika Tuhan enggan mengakuimu sebagai hambaNya maka semuanya akan selesai karena kehidupan abadi berasal dari Tuhan, oleh Tuhan dan untuk Tuhan.

Kamis, 26 Mei 2016

Kopi, Surga dan Kehangatan Khas Indonesia



Satu hal yang paling sulit didapatkan seseorang adalah sebuah kehangatan, kedamaian dan kebahagiaan. Tak ada satu pun orang yang mampu membeli sebuah kehangatan apalagi sekaligus dengan kebahagiaan dan kedamaian. Bahkan banyak negara maju yang kaya raya tetapi justru tingkat kebahagiaannya sangat rendah. Ini merupakan salah satu bukti bahwa uang bukan segalanya. Banyak orang menghabiskan uang milyaran rupiah untuk mencari kedamaian. Hasilnya tak sedikit pula yang gagal. Namun di Indonesia kita bisa menemukan ketiga harta karun ini dengan mudah. Seburuk apapun keadaan ekonomi di Indonesia aku masih percaya tingkat kebahagiaan bangsa ini masih sangat tinggi. Tak peduli banjir datang setiap tahun , mereka tetap setia dengan rumah mereka. Bahkan mereka mampu mengubah bencana menjadi sebuah kebahagiaan. Mampu mengubah banjir menjadi sebuah wisata tahunan seperti kolam renang yang menciptakan satu kebahagiaan dari sebuah bencana. Kebahagiaan mereka bertambah karena mereka tak akan pernah sanggup masuk ke area kolam renang mewah yang setara dengan waterboom karena harga tiketnya yang mahal. Ini hanya terjadi di Indonesia. Negeri yang aku ramalkan akan menjadi mayoritas penduduk di surga kelak. Bayangkan saja, pengangguran kelas kakap yang sudah satu tahun tak bekerja ketika pagi hari masih saja dapat asyik menghisap rokok kreteknya dengan ditemani secangkir kopi yang harganya tak lebih dari Rp 5000,-. Berbicara tentang Kopi, Aku pernah pergi ke sebuah warung kopi di Surabaya. Warung itu bernama warung Sarkam. Sebuah warung sederhana yang tak pernah sepi dikunjungi oleh para penikmat kopi sejati atau pun orang yang tak sengaja lewat. Di warung itu terdapat sebuah spanduk yang bertuliskan “Budayakan ngopi rek”. Tak ada bangku khusus. Hanya sebuah meja panjang yang tersambung dengan dapur untuk membuat kopi giling. Selebihnya hanya ada satu bangku panjang dan bangku-bangku kecil yang terletak sembarangan. Semua orang bebas memilih untuk duduk dimana. Bebas bercamur baur dengan para penikmat kopi lainnya dan juga bebas untuk mengobrol dengan siapa pun yang mereka inginkan.  Harga kopi di warung itu terbilang sangat murah. Berkisar antara Rp 2000,- hingga yang termahal Rp 5000,-. Dengan harga itu kita mampu mendapatkan secangkir kopi giling khas warung sarkam, teman baru serta kehangatan yang tak bisa ditemukan di sembarang tempat apalagi di warung kopi modern yang sudah dilengkapi dengan wifi dan meja yang terpisah-pisah. Menurutku pemilik warung ini tidak benar-benar sedang berbisnis. Mereka hanya menjual kopi dan gorengan yang harganya tak seberapa. Pemilik ini layak dinobatkan sebagai calon penghuni surga tanpa hisab. Jasanya yang berhasil menyatukan seluruh elemen masyarakat dalam satu warung kecil tidak dapat dianggap remeh. Rata-rata orang yang mampir di warung ini menyeruput kopi ditemani dengan sebatang rokok dan sepotong gorengan. ketiganya seakan berkolaborasi menciptakan setetes kebahagiaan dengan harga yang murah. Sejak pertama kali aku mampir ke warung ini langsung timbul suatu kebanggaan di hatiku. Bukan tentang rasa kopi yang nikmat tetapi lebih tepatnya kebanggaan karena aku adalah salah satu bagian dari mereka. Bagian dari bangsa Indonesia yang dengan mudahnya menciptakan sebuah kehangatan dan ketenangan batin tanpa perlu merepotkan Tuhan dengan rengekan doa meminta kelebihan rezeki yang menurutnya mungkin masih terselip di dalam kantong malaikat Jibril. Anggap saja ini adalah salah satu alasan kenapa aku mengatakan Indonesia akan menjadi mayoritas penduduk di surga kelak. Sebenarnya aku tidak sedang mendahulukan takdir Tuhan. Selama ini kita selalu berbicara surga- neraka dan pahala-dosa. Aku hanya ingin memastikan bahwa masyarakat Indonesia tidak terkekang dengan kedua pasangan tersebut. Sejatinya tujuan manusia hidup pasti adalah bahagia dunia dan akhirat. Sayangnya perkataan tersebut sering disalah artikan. Bahagia akhirat tidak melulu berbicara tentang surga. Sama halnya dengan bahagia di dunia yang tidak selalu dikaitkan dengan ekonomi. Jika surga adalah tujuan utama kebahagiaan akhirat maka jangan salahkan Tuhan jika akhirnya kalian dimasukkan ke dalam neraka dengan alasan lebih mencintai surga daripada mencintai Tuhan. Tujuan utama Tuhan menciptakan kita adalah untuk menyembahNya bukan menyembah Surga. Dalam arti lain ketika kita berbuat baik itu memang semata-mata ingin menjalin hubungan kasih sayang antar makhluk yang akan menciptakan kemaslahatan umat manusia tanpa ada iming-iming surga dan pahala. Secara tidak langsung fenomena ini akan menggembirakan hati Tuhan yang maha Penggembira. Bahkan saking gembiranya kepada manusia hingga Tuhan sering membangga-banggakan manusia (Umat Nabi Muhammad dan umat Nabi lainnya.) di depan para malaikatnya. Jadi sebenarnya surga adalah aplikasi dari rasa bahagia Tuhan. Maka tak pantas rasanya jika kita terlalu mengagungkan surga hingga lupa dengan pencipta surga. Namun karena Tuhan maha Penyayang dan Maha mengetahui serta Maha Pengertian maka dibuatlah surga untuk menarik hati manusia agar ingin berbuat baik. Setelah itu dibuatlah beberapa tingkatan ikhlas dalam beribadah yang menyelamatkan kita dari salah niat.
Dan tingkatan ikhlas paling tinggi itu sedang aku temukan di warung kopi yang tak pernah lelah membuatkan ribuan cangkir kopi serta juga kepada para penikmatnya yang tak segan untuk bertegur sapa, menciptakan tali silaturrahim dan menciptakan kebahagiaan yang juga aku rasakan hingga mereka semua lupa terhadap berbagai macam masalah yang sedang menimpanya tanpa mengharap pahala sepeser pun dari Tuhan apalagi untuk mengharapkan surgaNya. Kini aku semakin yakin bahwa bangsa Indonesia akan menjadi mayoritas penduduk surga di akhirat kelak.