Tidak
lama lagi rakyat Indonesia akan menentukan pemimpin daerahnya masing-masing.
Suasana panas sudah terjadi dari beberapa bulan yang lalu. Berbagai macam tokoh
muncul ke depan seakan merasa dirinya yang paling pantas menjadi pemimpin.
Bahkan seorang yang tadinya tak pernah dekat dengan rakyat kini rela becek-becekkan
keluar masuk pasar hanya untuk menarik simpati rakyat. Semua calon merasa
bahwa mereka bisa menyelesaikan semua masalah yang ada di daerahnya. Cak nun
pernah mengatakan orang semacam itu adalah bonek. Indonesia itu rata-rata
masyarakatnya adalah bocah nekat. Dulu cak Nun mengatakan “berani-beraninya SBY
jadi presiden, emang bisa ngatasi masalah?” Sekarang aku mengatakan hal yang
sama “Berani-beraninya Jokowi jadi presiden, emang bisa ngatasi masalah?” Jika
dilihat lebih dalam sebenarnya pertanyaan itu merupakan sebuah sinisme yang
sangat halus karena di Indonesia semua orang harus jadi bonek. Andai tidak ada
bonek maka negeri ini tidak akan ada. Di Indonesia anda tidak menjadi bonek
maka anda tidak makan. Begitu juga dengan calon pemimpin kita. Jika mereka
tidak menjadi bonek maka mereka tidak akan bisa menjadi seorang pemimpin. Lalu
bagaimana tanggapan kita jika ada seorang yang mengatakan “lebih baik pemimpin
kafir yang adil daripada pemimpin muslim yang zhalim”. Sebenarnya tidak ada
yang salah dengan pernyataan ini. Logikanya jika seorang pemimpin kafir itu
adil dia tidak akan menzholimi umat Islam dengan sifat adilnya dan justru
sebaliknya, jika seorang pemimpin islam itu zhalim maka hampir dipastikan nasib
umat islam akan ditelantarkan. Pernyataan ini seakan menjadi momok menakutkan
umat muslim di Indonesia. Padahal jika kita bisa memikirkan dengan hati yang
tenang pernyataan ini merupakan sebuah semangat atau lecutan bagi umat Islam
agar mampu memunculkan pemimpin-pemimpin yang adil. Bukan malah menjudge
seseorang yang mengatakan pernyataan tersebut. Jika kalian ikut mencela
seseorang yang mengatakan hal ini justru kalian sedang meng-aminkan bahwa
pemimpin Islam adalah pemimpin yang zhalim. Kalian seakan setuju bahwa pemimpin
muslim adalah pemimpin yang zhalim. Ini semua terjadi karena cara berfikir kita
masih terlalu panas. Terlalu mudah emosi dan tidak menerima jika Islam
dijelek-jelekkan padahal mereka sendirilah yang mencoreng nama Islam. Umat
Islam di Indonesia ibarat anak bawang yang ingin selalu menjadi pemenang tak
peduli dia jago dalam permainan itu atau tidak. Ketika ada seseorang yang
mengatakan bahwa anak itu tidak usah main jika tidak bisa bermain. Maka anak
bawang tersebut akan marah dan nangis mengadu kepada kedua orangtuanya.
Seharusnya kalimat itu menjadi lecutan tersendiri agar dia mau belajar dan
menjadi pemenang di permainan itu. Aku bukan mengatakan aku setuju memilih
pemimpin kafir. Aku hanya ingin mengatakan bahwa umat Islam di Indonesia harus
merubah cara berfikir mereka. Tidak semua pernyataan yang tidak mereka setuju
harus disikapi dengan kepala panas. Padahal kalimat di atas sekali lagi aku
katakan seharusnya menjadi alasan agar pemimpin muslim yang adil berani maju dan
pemimpin “kagetan” tidak berani muncul lagi. Kita krisis pemimpin. Anak mudah
terlalu sibuk dengan motor balapnya, seorang pegawai terlalu sibuk dengan
pekerjaannya bahkan seorang ulama terlalu sibuk dengan santrinya hingga lupa
bahwa kini Jakarta dipimpin oleh seorang non muslim. Ketika ahok sudah menjadi
gubernur DKI barulah mereka berteriak sana-sini. Seharusnya permasalahan ini
sudah bisa diprediksi dari 20 tahun sebelumnya. Sekarang kita tidak bisa
menyalahkan ahok. Kita juga tidak bisa menurunkan dia hanya karena dia bukan
gubernur muslim. Aku katakan orang yang ingin menurunkan ahok dengan alasan dia
bukan seorang muslim adalah orang yang bodoh dan mempermalukan nama Islam
seakan Islam tak mampu bersaing secara sehat dengan umat lain. Tugas kita saat
ini bukan menurunkan ahok tetapi mencari calon gubernur yang mampu menandingi
ahok. Jika terpilihnya ahok menjadi gubernur kemarin membuat umat Islam menjadi
berfikir dan bangun dari mimpi panjangnya maka aku sangat bersyukur pada pilgub
kemarin ahok dan jokowi menang. Kita memang umat yang harus digentak. Andai
tidak digentak seperti ini maka kita akan terus terlelap memikirkan apakah kita
akan masuk surga atau neraka. Jika kita disuruh melakukan sesuatu yang kita
anggap tidak akan membuat kita masuk surga maka kita tidak mau mengerjakannya.
Logika kita terbatas pada surga dan neraka. Sudahlah, mulai sekarang
surga-neraka itu urusan Allah. Sekarang bagaimana caranya agar umat Islam mampu
menjadi rahmatan lil alamin, agar masyarakat dunia mampu mencintai Islam
sehingga di akhirat nanti kita tidak mempermalukan baginda Nabi SAW. Aku
sebenarnya sangat malu ketika ada orang yang mengatakan lebih baik orang kafir
yang adil. Adil itu sifat Tuhan, sementara zhalim adalah sifat setan. Namun
sifat Tuhan justru lekat dengan umat kafir dan sifat setan malah diletakkan
pada umat Islam. Mungkin ini sudah menjadi titik terendah umat Islam. Kita
harus segera bangkit. Tak bisa hanya mengandalkan kiai dan ulama saja. Semua
elemen umat muslim harus bangkit. Akhlak mulia tidak hanya diperuntukkan bagi
ulama tetapi juga bagi semua manusia yang mengaku makhluk Tuhan. Jadi tidak ada
alasan bagi siapa pun untuk tetap menutup mata dari kemunduran ini. Percayalah,
Tuhan menjadikan kita sebagai umat muslim di Indonesia karena Dia mempunyai
alasan dan maksud tertentu yang tidak bisa digantikan oleh bangsa lain. Oleh
karena itu terimalah amanat ini dan jangan pernah kecewakan Tuhan.
Senin, 30 Mei 2016
Minggu, 29 Mei 2016
Dari Tuhan, Oleh Tuhan dan Untuk Tuhan
Islamku,
adalah sebuah agama yang dianggap teroris oleh masyarakat awam. Dianggap agama
yang paling benar oleh para pengikutnya. Dianggap pembawa kedamaian bagi yang
ditolong. Dianggap pembawa kerusakan bagi yang merasa dijajah. Terlalu banyak
pendapat tentang agamaku. Aku sendiri tak mau terlalu mendengarkan pendapat
mereka. Biar saja mereka menganggap Islam adalah agama yang paling benar, agama
teroris atau apapun itu. Semua itu lahir dari pendapat pribadi yang dihasilkan
hanya dari satu atau dua kejadian yang mereka lihat dan alami. Islam itu satu tetapi
manusia itu beragam. Islam itu bukan makhluk. Islam tak mempunyai sifat. Jadi bagi
mereka yang berpendapat tentang Islam sesungguhnya mereka sedang berpendapat
tentang saudara mereka sendiri yang dianggap Islam oleh mereka. Islam tak
pernah memaksa siapa pun untuk menjadi penganutnya. Tanpa satu pun penganut
agama Islam di bumi maka Islam akan tetap menjadi Islam. Tetap menjadi sebuah
agama yang akan menjadi penghubung antara manusia dengan Tuhan. Islam itu
abstrak. Tak dapat dilihat namun mampu dirasakan bagi orang-orang tertentu. Siapa
pun boleh saja mengaku Islam tetapi belum tentu Islam mengakuinya. Bisa saja
ada orang berteriak membela Islam padahal Islam tidak mengakuinya sebagai
penganutnya. Manusia terlalu sibuk membedakan siapa yang benar dan siapa yang
salah. Terlalu sibuk mencari siapa calon penghuni surga dan calon penghuni
neraka. Bahkan terkadang mereka merasa menjadi Tuhan yang pantas menjudge
seseorang menjadi ahli neraka. Manusia terlalu sibuk mengurusi iman manusia
lainnya hingga lupa bahwa satu kaki mereka telah berada di bayang-bayang
neraka. Ada banyak kejadian tentang manusia yang dianggap calon penghuni neraka
tetapi justru dengan mudahnya Allah masukkan ke dalam surga. Banyak manusia
merasa Islam hanya karena dia melaksanakan shalat lima waktu. Sayangnya gelar
Islam tidak dapat dicapai dengan semudah itu. Aku sendiri merasa malu dengan Tuhan jika aku dianggap sebagai orang
Islam. Aku ahli maksiat atau mungkin juga aku adalah salah satu calon penghuni
neraka. Aku takut jika aku dianggap beragama Islam tetapi aku justru mencoreng
nama suci Agama Islam dengan berbagai macam maksiatku. Aku takut kelakuanku
membuat citra agama Islam menjadi buruk. Aku takut perbuatan burukku membuat
juta’an manusia membenci Islam. Aku tak ingin mengotori agama Tuhan yang suci. Biarlah
aku saja yang kotor tetapi jangan sampai Agamaku ikut menjadi kotor. Aku ibarat
kotoran dan agama Islam ibarat dengan air yang bersih. Aku takut jika aku masuk
ke dalam air yang bersih justru akan membuat air itu menjadi najis dan kotor
hingga banyak orang yang jijik dan enggan menggunakan air itu. Menurutku agama
itu urusan seseorang dengan Tuhan. Agama ibarat suatu jalan yang akan kau pilih
demi mencapai tujuan bertemu dengan Tuhan. Jika kau mengotori jalan yang kau
lewati maka akan ada banyak orang dibelakangmu yang pindah jalan dan enggan
melewati jalan yang kau lalui. Secara tidak langsung kau menceburkan banyak
jiwa ke neraka. Lalu ketika kau sampai di surga. Sedang asyik bermanja dengan
bidadari idamanmu. Tuhan memanggilmu dan memerintahkan malaikat untuk
membuangmu ke neraka. Saat kau bertanya kenapa Tuhan melemparkanku ke neraka
padahal aku adalah ahli ibadah. Tuhan menjawab ada seorang hambaku yang mengadu
kepadaKu bahwa kau telah mengotori agamaKu sehingga banyak hambaKu yang enggan
masuk Islam karena perilakumu. Andai seluruh umat Islam mau berfikir seperti
ini aku yakin tak akan ada lagi ada kejahatan atas nama Islam. Semuanya terjadi
karena setiap orang berlomba-lomba agar diakui sebagai manusia Islam yang
paling benar. Tak peduli juta’an orang mengakuimu sebagai muslim yang paling
benar jika Tuhan enggan mengakuimu sebagai hambaNya maka semuanya akan selesai
karena kehidupan abadi berasal dari Tuhan, oleh Tuhan dan untuk Tuhan.
Kamis, 26 Mei 2016
Kopi, Surga dan Kehangatan Khas Indonesia
Satu hal yang paling sulit didapatkan
seseorang adalah sebuah kehangatan, kedamaian dan kebahagiaan. Tak ada satu pun
orang yang mampu membeli sebuah kehangatan apalagi sekaligus dengan kebahagiaan
dan kedamaian. Bahkan banyak negara maju yang kaya raya tetapi justru tingkat
kebahagiaannya sangat rendah. Ini merupakan salah satu bukti bahwa uang bukan
segalanya. Banyak orang menghabiskan uang milyaran rupiah untuk mencari
kedamaian. Hasilnya tak sedikit pula yang gagal. Namun di Indonesia kita bisa
menemukan ketiga harta karun ini dengan mudah. Seburuk apapun keadaan ekonomi
di Indonesia aku masih percaya tingkat kebahagiaan bangsa ini masih sangat
tinggi. Tak peduli banjir datang setiap tahun , mereka tetap setia dengan rumah
mereka. Bahkan mereka mampu mengubah bencana menjadi sebuah kebahagiaan. Mampu mengubah
banjir menjadi sebuah wisata tahunan seperti kolam renang yang menciptakan satu
kebahagiaan dari sebuah bencana. Kebahagiaan mereka bertambah karena mereka tak
akan pernah sanggup masuk ke area kolam renang mewah yang setara dengan waterboom karena
harga tiketnya yang mahal. Ini hanya terjadi di Indonesia. Negeri yang aku
ramalkan akan menjadi mayoritas penduduk di surga kelak. Bayangkan saja, pengangguran
kelas kakap yang sudah satu tahun tak bekerja ketika pagi hari masih saja dapat
asyik menghisap rokok kreteknya dengan ditemani secangkir kopi yang harganya
tak lebih dari Rp 5000,-. Berbicara tentang Kopi, Aku pernah pergi ke sebuah warung kopi di Surabaya. Warung
itu bernama warung Sarkam. Sebuah warung sederhana yang tak pernah sepi
dikunjungi oleh para penikmat kopi sejati atau pun orang yang tak sengaja
lewat. Di warung itu terdapat sebuah spanduk yang bertuliskan “Budayakan ngopi
rek”. Tak ada bangku khusus. Hanya sebuah meja panjang yang tersambung dengan
dapur untuk membuat kopi giling. Selebihnya hanya ada satu bangku panjang dan
bangku-bangku kecil yang terletak sembarangan. Semua orang bebas memilih untuk
duduk dimana. Bebas bercamur baur dengan para penikmat kopi lainnya dan juga
bebas untuk mengobrol dengan siapa pun yang mereka inginkan. Harga kopi di warung itu terbilang sangat
murah. Berkisar antara Rp 2000,- hingga yang termahal Rp 5000,-. Dengan harga
itu kita mampu mendapatkan secangkir kopi giling khas warung sarkam, teman baru
serta kehangatan yang tak bisa ditemukan di sembarang tempat apalagi di warung
kopi modern yang sudah dilengkapi dengan wifi dan meja yang terpisah-pisah. Menurutku
pemilik warung ini tidak benar-benar sedang berbisnis. Mereka hanya menjual
kopi dan gorengan yang harganya tak seberapa. Pemilik ini layak dinobatkan sebagai calon penghuni surga tanpa hisab. Jasanya yang berhasil menyatukan
seluruh elemen masyarakat dalam satu warung kecil tidak dapat dianggap remeh. Rata-rata
orang yang mampir di warung ini menyeruput kopi ditemani dengan sebatang rokok
dan sepotong gorengan. ketiganya seakan berkolaborasi menciptakan setetes
kebahagiaan dengan harga yang murah. Sejak pertama kali aku mampir ke warung
ini langsung timbul suatu kebanggaan di hatiku. Bukan tentang rasa kopi yang
nikmat tetapi lebih tepatnya kebanggaan karena aku adalah salah satu bagian
dari mereka. Bagian dari bangsa Indonesia yang dengan mudahnya menciptakan
sebuah kehangatan dan ketenangan batin tanpa perlu merepotkan Tuhan dengan
rengekan doa meminta kelebihan rezeki yang menurutnya mungkin masih terselip di
dalam kantong malaikat Jibril. Anggap saja ini adalah salah satu alasan kenapa aku
mengatakan Indonesia akan menjadi mayoritas penduduk di surga kelak. Sebenarnya
aku tidak sedang mendahulukan takdir Tuhan. Selama ini kita selalu berbicara
surga- neraka dan pahala-dosa. Aku hanya ingin memastikan bahwa masyarakat
Indonesia tidak terkekang dengan kedua pasangan tersebut. Sejatinya tujuan
manusia hidup pasti adalah bahagia dunia dan akhirat. Sayangnya perkataan
tersebut sering disalah artikan. Bahagia akhirat tidak melulu berbicara tentang
surga. Sama halnya dengan bahagia di dunia yang tidak selalu dikaitkan dengan
ekonomi. Jika surga adalah tujuan utama kebahagiaan akhirat maka jangan
salahkan Tuhan jika akhirnya kalian dimasukkan ke dalam neraka dengan alasan
lebih mencintai surga daripada mencintai Tuhan. Tujuan utama Tuhan menciptakan
kita adalah untuk menyembahNya bukan menyembah Surga. Dalam arti lain ketika
kita berbuat baik itu memang semata-mata ingin menjalin hubungan kasih sayang
antar makhluk yang akan menciptakan kemaslahatan umat manusia tanpa ada iming-iming
surga dan pahala. Secara tidak langsung fenomena ini akan menggembirakan hati
Tuhan yang maha Penggembira. Bahkan saking gembiranya kepada manusia hingga Tuhan sering membangga-banggakan
manusia (Umat Nabi Muhammad dan umat Nabi lainnya.) di depan para malaikatnya. Jadi
sebenarnya surga adalah aplikasi dari rasa bahagia Tuhan. Maka tak pantas
rasanya jika kita terlalu mengagungkan surga hingga lupa dengan pencipta surga.
Namun karena Tuhan maha Penyayang dan Maha mengetahui serta Maha Pengertian
maka dibuatlah surga untuk menarik hati manusia agar ingin berbuat baik. Setelah
itu dibuatlah beberapa tingkatan ikhlas dalam beribadah yang menyelamatkan kita
dari salah niat.
Dan tingkatan ikhlas paling tinggi
itu sedang aku temukan di warung kopi yang tak pernah lelah membuatkan ribuan
cangkir kopi serta juga kepada para penikmatnya yang tak segan untuk bertegur
sapa, menciptakan tali silaturrahim dan menciptakan kebahagiaan yang juga aku
rasakan hingga mereka semua lupa terhadap berbagai macam masalah yang sedang
menimpanya tanpa mengharap pahala sepeser pun dari Tuhan apalagi untuk
mengharapkan surgaNya. Kini aku semakin yakin bahwa bangsa Indonesia akan
menjadi mayoritas penduduk surga di akhirat kelak.
Langganan:
Postingan (Atom)