Selasa, 12 April 2016

Kasih Sayang Tuhan

Malam ini, meski sudah menunjukkan pukul 1 tetapi keadaan mataku masih sangat terang. Layaknya kelelawar aku mungkin ditakdirkan untuk hidup di malam hari. Hidup di tengah kegelapan, ditemani bintang malam dan kesunyian yang hanya bisa dirasakan oleh pengidap insom sepertiku. Mengetik dalam kegelapan bukanlah sesuatu yang mudah. Aku harus berulang kali mengganti tulisanku yang salah. Layaknya pendosa yang mencoba meraba cahaya Tuhan setidaknya agar mampu menemukan kasih sayang Tuhan yang masih tersisa untuknya. Hingga akhirnya datang titik paling rendah dan paling bawah. Saat  pendosa sudah sangat lelah dengan perbuatan maksiatnya. Namun Tuhan tak pernah enggan untuk merangkulnya karena sifat kemaha penyayang Tuhan yang tak berbatas. Pelukan Tuhan semakin erat. Seakan pendosa itu adalah makhluk yang paling disayang oleh Tuhan.  Kelemahan sang pendosa dan kasih sayang Tuhan melebur menjadi satu. Membuat semua ahli ibadah merasa cemburu. Disaat itu pendosa berteriak keras “Tuhan, aku tidak butuh surga. Aku hanya ingin memelukmu untuk selama-lamanya.” Pendosa itu tak mau melepaskan pelukan Tuhan sementara Tuhan merasa tak tega untuk melepaskan pelukan pendosa itu. Kini, mereka berdua berpelukkan dalam keabadian. Tak ada batas apalagi seorang pun yang berani menghalangi mereka. ketika ini semua telah terjadi aku masih tetap dalam keadaanku. Berdiam, mematung dan berharap akulah si pendosa itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar