Sesuatu yang paling pasti di dunia ini adalah sebuah
ketidakpastian. Setidaknya, kata-kata inilah yang membombardir madzhab
Newtonian yang dipelopori oleh Galileo Galilei dan diresmikan secara tidak
resmi oleh Sir Isaac Newton. Kebanyakan orang barat menyebutnya madzhab fisika
klasik, sementara orang Indonesia tidak pernah memberinya nama apapun. Bukan
karena falsafah “apalah arti sebuah nama” tetapi karena orang Indonesia lebih
asyik membicarakan perdebatan politik dalam negeri daripada menelusuri kemajuan
ilmu pengetahuan yang ada.
Dalam sejarah fisika, madzhab klasik lahir dari sikap keras gereja
yang “mengandangi” kemajuan pemikiran bangsa barat sehingga pada puncaknya,
mereka kaum gereja melarang seluruh umat Kristiani membaca Kitab Sucinya
sendirian. Segala sesuatu ada pada otoritas mutlak gereja.Tak ada kesempatan
untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran mereka. Pihak gereja menganggap
merekalah satu-satunya otoritas yang berkuasa dan berhak menyelesaikan sebuah
permasalahan dan menentukan suatu kebijakan dalam segala bidang. Inilah yang
menyebabkan munculnya sebuah kelompok yang memprotes kebijakan-kebijakan gereja
hingga akhirnya mereka membelah diri menjadi sebuah aliran keagaman yang bernama
Protestan. Ditambah lagi, ditemukannya mesin cetak oleh Johannes Gutenberg pada
abad 15 M menambah laju kecepatan perkembangan ajaran Martin Luther yang
mempelopori reformasi protestan di eropa khususnya.
Reformasi protestan besar-besaran ini ternyata menghasilkan banyak
ilmuwan-ilmuwan baru yang berlomba-lomba untuk menemukan sesuatu yang dianggap
sesuai dengan penalaran logika manusia, tak terikat dengan ajaran teologis dan
terbebas dari doktrin gereja. Puncaknya adalah ketika Newton mengungkapkan bahwa
bumi adalah sebuah mesin raksasa yang bergerak secara mekanis dan sistematis.
Mereka menganggap semua yang ada di alam semesta ini dapat diprediksi secara
ilmiah. Secara bertanggung jawab, tentu kejadian ini memiliki banyak efek
positif seperti memprediksi gempa bumi, gerhana dan berbagai fenomena alam
lainnya. Selain itu, konsep fisika klasik juga menjadi dasar berkembangnya
teknologi hingga zaman ini. Namun sejak saat juga kesadaran manusia terhadap
spiritual semakin menjauh dan paham materialism semakin berkuasa.
Madzhab ini masih menjadi rujukan utama hingga pada akhir abad 19 M
ditemukan beberapa fenomena yang tidak dapat dijelaskan oleh konsep fisika
klasik. Hal ini menyebabkan para ilmuwan berusaha keras mencari jalan keluar
dari berbagai permasalahan yang muncul. Max Planck, Niels Bohr dan
Einstein-dengan teori relativitasnya- mencoba menawarkan sesuatu yang fresh dan
baru untuk menyelesaikan problematika yang buntu dan gagal diselesaikan oleh
Konsep Newtonian. Konsep inilah yang sering dinamakan dengan Fisika Kuantum
atau dikenal juga dengan Madzhab fisika modern.
Inti dari konsep Fisika Kuantum adalah ditemukannya Quark atau
disebut juga Quanta sebagai sebuah energi atau partikel yang menjadi inti
terdalam dari sesuatu dan menjadi penyusun proton dan neutron. Jika fisika
klasik mengatakan bahwa benda terbagi menjadi padat, cair dan uap, maka teori
fisika kuantum membantah dan berpendapat bahwa semua benda tersusun dari
getaran energi yang kecepatannya melampaui kecepatan cahaya. Semakin lambat
quanta bergetar maka semakin dapat terdeteksi oleh panca indera seperti air,
bangku dan bau. Begitu juga manusia yang ternyata bukan benda padat melainkan
adalah kumpulan energi yang menimbulkan ilusi bahwa manusia seakan padat. Namun
semakin cepat energi tersebut bergetar maka sesuatu tersebut hanya dapat
dirasakan seperti marah, bahagia dan ketakutan. Dengan ditemukannya quanta,
terbukti bahwa segala sesuatu tersusun dari getaran energi. Hal yang paling
mengejutkan adalah ditemukannya hukum The Law Of Attraction (hukum
ketertarikan) yang diklaim mampu menentukan masa depan seseorang. Semakin
seseorang pandai memainkan energi quanta, semakin mampu seseorang tersebut
mengendalikan masa depan Seperti Firman Allah SWT “Aku Sesuai dengan sangkaan
hambaku”, dan “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali
kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka”. Hukum ini menjelaskan
bahwa semakin sering manusia berfikir positif , maka energi yang keluar akan
menarik fikiran tersebut ke dalam kenyataan. Selain itu fisika kuantum juga
mampu menjelaskan karomah, mukjizat dan sesuatu yang dianggap ganjil dalam
kacamata fisika klasik seperti seseorang yang berada dalam dua tempat dalam
satu waktu, menembus jarak ribuan kilometer dalam sekian detik atau
mengendalikan sesuatu tanpa menyentuhnya (quantum nonlocal connection). Secara
tidak sadar penemuan ini jelas semakin menghancurkan eksistensi fisika klasik
yang bercirikan materi, sistematis dan terprediksi.
Pada baris ini, aku mulai berani mengatakan bahwa sains
(Biologi,Fisika dan Kimia) merupakan salah satu ilmu tauhid yang harus
dipelajari seorang muslim terutama di Indonesia untuk membuktikan Tuhan secara
absolut dan ilmiah demi menambah keyakinan/ketauhidan seorang muslim. Salah
satu contohnya adalah Doktrin bahwa Tuhan tak berbentuk. Ini merupakan
satu-satunya hal paling masuk akal dalam ilmu Tauhid. Andai Tuhan berbentuk,
maka Dia pun akan tersusun dari partikel Quark , itu artinya Tuhan tidak Esa
dan tersusun dari sesuatu. Maka gelar Maha Kuasa otomatis akan sirna. Oleh
karena itu dalam agama Islam Tuhan tidak berbentuk sebagaimana makhluk karena
dia adalah Dzat yang maha kuasa.
Selain itu, masih banyak keistimewaan teori kuantum lainnya yang
menyatakan bahwa Alam semesta tidak bergerak hanya secara mekanis saja,
melainkan ada Energi penggerak di luar kekuasaan makhluk yang hingga saat ini
masih dalam penelusuran lebih lanjut. Seperti pada kisah Nabi Musa melawan
Dukun-dukun fir’aun. Ketika para dukun mengubah tali menjadi ular-ular kecil,
lalu Nabi Musa dengan kekuasaan Allah mengubah quark kayu menjadi seekor ular
besar, seketika itu juga para dukun mengakui kekuasaan Allah dan bersaksi bahwa
Tiada Tuhan selain Allah. Pelajaran pertama yang kita ambil adalah tentu bahwa
dukun-dukun Firaun tersebut adalah dukun terbaik di zamannya. Mereka juga pasti
mengetahui batas kemampuan sihir manusia sejauh mana. Oleh karena itu, ketika
Nabi Musa mengubah tongkat menjadi ular, secara langsung mereka mengakui
kenabian Musa karena manusia biasa tidak akan mungkin mencapai kemampuan
sedahsyat itu. Kemampuan itu hanya dapat dicapai oleh kekuasaan Tuhan.
Ini merupakan bukti bahwa semakin seseorang belajar, semakin mereka
mengetahui mana batas kemampuan manusia dan mana kekuasaan Allah SWT. Ini juga
yang menjadi sebab banyaknya masyarakat eropa yang berusaha mencari kembali
spiritualitas mereka yang hilang semenjak kedatangan materialism. Kesadaran
bahwa ada Dzat yang mengendalikan Alam semesta juga sedikit demi sedikit mulai
terbangun kembali sehingga menimbulkan optimisme mendalam bahwa suatu saat
Eropa akan menjadi Tuan Rumah Masyarakat Muslim Dunia berbasis IPTEK sembari
berpura-pura optimis mungkin Indonesia akan menjadi Tuan Rumah Masyarakat
Muslim Dunia berbasis Budaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar