Kamis, 26 Mei 2016

Kopi, Surga dan Kehangatan Khas Indonesia



Satu hal yang paling sulit didapatkan seseorang adalah sebuah kehangatan, kedamaian dan kebahagiaan. Tak ada satu pun orang yang mampu membeli sebuah kehangatan apalagi sekaligus dengan kebahagiaan dan kedamaian. Bahkan banyak negara maju yang kaya raya tetapi justru tingkat kebahagiaannya sangat rendah. Ini merupakan salah satu bukti bahwa uang bukan segalanya. Banyak orang menghabiskan uang milyaran rupiah untuk mencari kedamaian. Hasilnya tak sedikit pula yang gagal. Namun di Indonesia kita bisa menemukan ketiga harta karun ini dengan mudah. Seburuk apapun keadaan ekonomi di Indonesia aku masih percaya tingkat kebahagiaan bangsa ini masih sangat tinggi. Tak peduli banjir datang setiap tahun , mereka tetap setia dengan rumah mereka. Bahkan mereka mampu mengubah bencana menjadi sebuah kebahagiaan. Mampu mengubah banjir menjadi sebuah wisata tahunan seperti kolam renang yang menciptakan satu kebahagiaan dari sebuah bencana. Kebahagiaan mereka bertambah karena mereka tak akan pernah sanggup masuk ke area kolam renang mewah yang setara dengan waterboom karena harga tiketnya yang mahal. Ini hanya terjadi di Indonesia. Negeri yang aku ramalkan akan menjadi mayoritas penduduk di surga kelak. Bayangkan saja, pengangguran kelas kakap yang sudah satu tahun tak bekerja ketika pagi hari masih saja dapat asyik menghisap rokok kreteknya dengan ditemani secangkir kopi yang harganya tak lebih dari Rp 5000,-. Berbicara tentang Kopi, Aku pernah pergi ke sebuah warung kopi di Surabaya. Warung itu bernama warung Sarkam. Sebuah warung sederhana yang tak pernah sepi dikunjungi oleh para penikmat kopi sejati atau pun orang yang tak sengaja lewat. Di warung itu terdapat sebuah spanduk yang bertuliskan “Budayakan ngopi rek”. Tak ada bangku khusus. Hanya sebuah meja panjang yang tersambung dengan dapur untuk membuat kopi giling. Selebihnya hanya ada satu bangku panjang dan bangku-bangku kecil yang terletak sembarangan. Semua orang bebas memilih untuk duduk dimana. Bebas bercamur baur dengan para penikmat kopi lainnya dan juga bebas untuk mengobrol dengan siapa pun yang mereka inginkan.  Harga kopi di warung itu terbilang sangat murah. Berkisar antara Rp 2000,- hingga yang termahal Rp 5000,-. Dengan harga itu kita mampu mendapatkan secangkir kopi giling khas warung sarkam, teman baru serta kehangatan yang tak bisa ditemukan di sembarang tempat apalagi di warung kopi modern yang sudah dilengkapi dengan wifi dan meja yang terpisah-pisah. Menurutku pemilik warung ini tidak benar-benar sedang berbisnis. Mereka hanya menjual kopi dan gorengan yang harganya tak seberapa. Pemilik ini layak dinobatkan sebagai calon penghuni surga tanpa hisab. Jasanya yang berhasil menyatukan seluruh elemen masyarakat dalam satu warung kecil tidak dapat dianggap remeh. Rata-rata orang yang mampir di warung ini menyeruput kopi ditemani dengan sebatang rokok dan sepotong gorengan. ketiganya seakan berkolaborasi menciptakan setetes kebahagiaan dengan harga yang murah. Sejak pertama kali aku mampir ke warung ini langsung timbul suatu kebanggaan di hatiku. Bukan tentang rasa kopi yang nikmat tetapi lebih tepatnya kebanggaan karena aku adalah salah satu bagian dari mereka. Bagian dari bangsa Indonesia yang dengan mudahnya menciptakan sebuah kehangatan dan ketenangan batin tanpa perlu merepotkan Tuhan dengan rengekan doa meminta kelebihan rezeki yang menurutnya mungkin masih terselip di dalam kantong malaikat Jibril. Anggap saja ini adalah salah satu alasan kenapa aku mengatakan Indonesia akan menjadi mayoritas penduduk di surga kelak. Sebenarnya aku tidak sedang mendahulukan takdir Tuhan. Selama ini kita selalu berbicara surga- neraka dan pahala-dosa. Aku hanya ingin memastikan bahwa masyarakat Indonesia tidak terkekang dengan kedua pasangan tersebut. Sejatinya tujuan manusia hidup pasti adalah bahagia dunia dan akhirat. Sayangnya perkataan tersebut sering disalah artikan. Bahagia akhirat tidak melulu berbicara tentang surga. Sama halnya dengan bahagia di dunia yang tidak selalu dikaitkan dengan ekonomi. Jika surga adalah tujuan utama kebahagiaan akhirat maka jangan salahkan Tuhan jika akhirnya kalian dimasukkan ke dalam neraka dengan alasan lebih mencintai surga daripada mencintai Tuhan. Tujuan utama Tuhan menciptakan kita adalah untuk menyembahNya bukan menyembah Surga. Dalam arti lain ketika kita berbuat baik itu memang semata-mata ingin menjalin hubungan kasih sayang antar makhluk yang akan menciptakan kemaslahatan umat manusia tanpa ada iming-iming surga dan pahala. Secara tidak langsung fenomena ini akan menggembirakan hati Tuhan yang maha Penggembira. Bahkan saking gembiranya kepada manusia hingga Tuhan sering membangga-banggakan manusia (Umat Nabi Muhammad dan umat Nabi lainnya.) di depan para malaikatnya. Jadi sebenarnya surga adalah aplikasi dari rasa bahagia Tuhan. Maka tak pantas rasanya jika kita terlalu mengagungkan surga hingga lupa dengan pencipta surga. Namun karena Tuhan maha Penyayang dan Maha mengetahui serta Maha Pengertian maka dibuatlah surga untuk menarik hati manusia agar ingin berbuat baik. Setelah itu dibuatlah beberapa tingkatan ikhlas dalam beribadah yang menyelamatkan kita dari salah niat.
Dan tingkatan ikhlas paling tinggi itu sedang aku temukan di warung kopi yang tak pernah lelah membuatkan ribuan cangkir kopi serta juga kepada para penikmatnya yang tak segan untuk bertegur sapa, menciptakan tali silaturrahim dan menciptakan kebahagiaan yang juga aku rasakan hingga mereka semua lupa terhadap berbagai macam masalah yang sedang menimpanya tanpa mengharap pahala sepeser pun dari Tuhan apalagi untuk mengharapkan surgaNya. Kini aku semakin yakin bahwa bangsa Indonesia akan menjadi mayoritas penduduk surga di akhirat kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar