Satu hal yang paling sulit didapatkan
seseorang adalah sebuah kehangatan, kedamaian dan kebahagiaan. Tak ada satu pun
orang yang mampu membeli sebuah kehangatan apalagi sekaligus dengan kebahagiaan
dan kedamaian. Bahkan banyak negara maju yang kaya raya tetapi justru tingkat
kebahagiaannya sangat rendah. Ini merupakan salah satu bukti bahwa uang bukan
segalanya. Banyak orang menghabiskan uang milyaran rupiah untuk mencari
kedamaian. Hasilnya tak sedikit pula yang gagal. Namun di Indonesia kita bisa
menemukan ketiga harta karun ini dengan mudah. Seburuk apapun keadaan ekonomi
di Indonesia aku masih percaya tingkat kebahagiaan bangsa ini masih sangat
tinggi. Tak peduli banjir datang setiap tahun , mereka tetap setia dengan rumah
mereka. Bahkan mereka mampu mengubah bencana menjadi sebuah kebahagiaan. Mampu mengubah
banjir menjadi sebuah wisata tahunan seperti kolam renang yang menciptakan satu
kebahagiaan dari sebuah bencana. Kebahagiaan mereka bertambah karena mereka tak
akan pernah sanggup masuk ke area kolam renang mewah yang setara dengan waterboom karena
harga tiketnya yang mahal. Ini hanya terjadi di Indonesia. Negeri yang aku
ramalkan akan menjadi mayoritas penduduk di surga kelak. Bayangkan saja, pengangguran
kelas kakap yang sudah satu tahun tak bekerja ketika pagi hari masih saja dapat
asyik menghisap rokok kreteknya dengan ditemani secangkir kopi yang harganya
tak lebih dari Rp 5000,-. Berbicara tentang Kopi, Aku pernah pergi ke sebuah warung kopi di Surabaya. Warung
itu bernama warung Sarkam. Sebuah warung sederhana yang tak pernah sepi
dikunjungi oleh para penikmat kopi sejati atau pun orang yang tak sengaja
lewat. Di warung itu terdapat sebuah spanduk yang bertuliskan “Budayakan ngopi
rek”. Tak ada bangku khusus. Hanya sebuah meja panjang yang tersambung dengan
dapur untuk membuat kopi giling. Selebihnya hanya ada satu bangku panjang dan
bangku-bangku kecil yang terletak sembarangan. Semua orang bebas memilih untuk
duduk dimana. Bebas bercamur baur dengan para penikmat kopi lainnya dan juga
bebas untuk mengobrol dengan siapa pun yang mereka inginkan. Harga kopi di warung itu terbilang sangat
murah. Berkisar antara Rp 2000,- hingga yang termahal Rp 5000,-. Dengan harga
itu kita mampu mendapatkan secangkir kopi giling khas warung sarkam, teman baru
serta kehangatan yang tak bisa ditemukan di sembarang tempat apalagi di warung
kopi modern yang sudah dilengkapi dengan wifi dan meja yang terpisah-pisah. Menurutku
pemilik warung ini tidak benar-benar sedang berbisnis. Mereka hanya menjual
kopi dan gorengan yang harganya tak seberapa. Pemilik ini layak dinobatkan sebagai calon penghuni surga tanpa hisab. Jasanya yang berhasil menyatukan
seluruh elemen masyarakat dalam satu warung kecil tidak dapat dianggap remeh. Rata-rata
orang yang mampir di warung ini menyeruput kopi ditemani dengan sebatang rokok
dan sepotong gorengan. ketiganya seakan berkolaborasi menciptakan setetes
kebahagiaan dengan harga yang murah. Sejak pertama kali aku mampir ke warung
ini langsung timbul suatu kebanggaan di hatiku. Bukan tentang rasa kopi yang
nikmat tetapi lebih tepatnya kebanggaan karena aku adalah salah satu bagian
dari mereka. Bagian dari bangsa Indonesia yang dengan mudahnya menciptakan
sebuah kehangatan dan ketenangan batin tanpa perlu merepotkan Tuhan dengan
rengekan doa meminta kelebihan rezeki yang menurutnya mungkin masih terselip di
dalam kantong malaikat Jibril. Anggap saja ini adalah salah satu alasan kenapa aku
mengatakan Indonesia akan menjadi mayoritas penduduk di surga kelak. Sebenarnya
aku tidak sedang mendahulukan takdir Tuhan. Selama ini kita selalu berbicara
surga- neraka dan pahala-dosa. Aku hanya ingin memastikan bahwa masyarakat
Indonesia tidak terkekang dengan kedua pasangan tersebut. Sejatinya tujuan
manusia hidup pasti adalah bahagia dunia dan akhirat. Sayangnya perkataan
tersebut sering disalah artikan. Bahagia akhirat tidak melulu berbicara tentang
surga. Sama halnya dengan bahagia di dunia yang tidak selalu dikaitkan dengan
ekonomi. Jika surga adalah tujuan utama kebahagiaan akhirat maka jangan
salahkan Tuhan jika akhirnya kalian dimasukkan ke dalam neraka dengan alasan
lebih mencintai surga daripada mencintai Tuhan. Tujuan utama Tuhan menciptakan
kita adalah untuk menyembahNya bukan menyembah Surga. Dalam arti lain ketika
kita berbuat baik itu memang semata-mata ingin menjalin hubungan kasih sayang
antar makhluk yang akan menciptakan kemaslahatan umat manusia tanpa ada iming-iming
surga dan pahala. Secara tidak langsung fenomena ini akan menggembirakan hati
Tuhan yang maha Penggembira. Bahkan saking gembiranya kepada manusia hingga Tuhan sering membangga-banggakan
manusia (Umat Nabi Muhammad dan umat Nabi lainnya.) di depan para malaikatnya. Jadi
sebenarnya surga adalah aplikasi dari rasa bahagia Tuhan. Maka tak pantas
rasanya jika kita terlalu mengagungkan surga hingga lupa dengan pencipta surga.
Namun karena Tuhan maha Penyayang dan Maha mengetahui serta Maha Pengertian
maka dibuatlah surga untuk menarik hati manusia agar ingin berbuat baik. Setelah
itu dibuatlah beberapa tingkatan ikhlas dalam beribadah yang menyelamatkan kita
dari salah niat.
Dan tingkatan ikhlas paling tinggi
itu sedang aku temukan di warung kopi yang tak pernah lelah membuatkan ribuan
cangkir kopi serta juga kepada para penikmatnya yang tak segan untuk bertegur
sapa, menciptakan tali silaturrahim dan menciptakan kebahagiaan yang juga aku
rasakan hingga mereka semua lupa terhadap berbagai macam masalah yang sedang
menimpanya tanpa mengharap pahala sepeser pun dari Tuhan apalagi untuk
mengharapkan surgaNya. Kini aku semakin yakin bahwa bangsa Indonesia akan
menjadi mayoritas penduduk surga di akhirat kelak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar